TANGERANG, iNewsTangsel.id - Sebanyak 12 ribu balita dan 5 ribu ibu hamil di Kabupaten Tangerang menjadi sasaran Pemberian Makanan Tambahan (PMT) tahun 2026. Hal itu sebagai bagian dari strategi pemerintah daerah dalam menekan angka stunting dan meningkatkan status gizi masyarakat. Program tersebut didukung berbagai sumber pendanaan, mulai dari Dana Desa, APBD, hingga APBN melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, dr. Hendra Tarmidzi, menjelaskan PMT dibagi dalam dua kategori utama, yakni PMT penyuluhan dan PMT pemulihan. Keduanya memiliki sasaran dan sumber anggaran yang berbeda.
“PMT penyuluhan bertujuan mendorong masyarakat datang ke Posyandu dan bersumber dari Dana Desa. Sedangkan, PMT pemulihan diberikan kepada balita yang berat badannya menurun, berisiko stunting, atau mengalami gizi buruk,” kata dr. Hendra, Selasa (13/1/2026).
Dia menerangkan, dalam mencegah kasus stunting, makanan yang lengkap dan bergizi sangat penting untuk pertumbuhan bayi. Makanan lengkap yang disajikan berupa nasi, sayur, lauk, buah dan makanan ringan.
“PMT yang di berikan, berupa makan lengkap yang dimasak berdasarkan resep yang disiapkan oleh tim gizi Dinas Kesehatan dan pangan medis, berupa produk yang mengandung kalori, protein, lemak serta vitamin mineral yang dibutuhkan oleh anak yang kurang gizi,” paparnya.
Dia mengungkapkan, pada tahun 2026, target PMT pemulihan untuk sekitar 12.000 balita bermasalah gizi dan sekitar 5.000 ibu hamil berisiko. Seluruh sasaran akan melalui proses skrining di Posyandu.
“Hal itu kami lakukan guna menentukan bentuk intervensi yang paling sesuai dengan kondisi kesehatan masing-masing,” imbuhnya.
Menurut dia, intervensi tidak hanya berupa pemberian PMT, tetapi juga pemeriksaan kesehatan rutin hingga pemberian tablet tambah darah. Apabila ditemukan kondisi yang memerlukan penanganan lanjutan, maka dilakukan rujukan ke dokter spesialis di rumah sakit.
“Penanganannya komprehensif, tidak sekadar makanan tambahan. Kami pastikan ibu dan anak mendapatkan layanan kesehatan yang dibutuhkan,” tegasnya.
dr. Hendra menerangkan, upaya tersebut diperkuat melalui program Gerebek Posyandu, sebuah inovasi lintas sektor yang telah berjalan sejak 2024. Program ini melibatkan camat dan kepala desa untuk menggerakkan partisipasi masyarakat, terutama di wilayah perkampungan yang selama ini sulit menjangkau layanan kesehatan.
“Gerebek Posyandu membantu kami memetakan balita dan ibu hamil berisiko secara lebih akurat. Sehingga jumlah balita berisiko stunting sudah menurun signifikan, dari sekitar 17 ribu menjadi 9 ribuan, terutama di wilayah Pantura dan beberapa kecamatan lainnya,” ungkap dr. Hendra.
Dia menambahkan, melalui pelaksanaan Gerebek Posyandu 2026, pihaknya berharap angka stunting serta kematian ibu dan bayi dapat terus ditekan.
“Sehingga hal ini sejalan dengan upaya mewujudkan masyarakat Tangerang yang sehat dan berkualitas,” pungkasnya.
Editor : Elva Setyaningrum
Artikel Terkait
