JAKARTA, iNewsTangsel.id - Pasca-Lebaran kerap menjadi fase penyesuaian bagi banyak masyarakat, terutama dalam menghadapi masalah keuangan dan menjaga kondisi kesehatan. Setelah meningkatnya konsumsi selama Ramadan hingga libur Idulfitri, tidak sedikit rumah tangga yang harus kembali menata anggaran agar tetap stabil. Masalah kesehatan pun ikut menjadi sorotan.
Faculty Head Sequis Quality Empowerment (STAE) Sequis Life, Yan Ardhianto Handoyo, menjelaskan, untuk itu pentingnya melakukan evaluasi keuangan secara menyeluruh setelah Lebaran. Karena tekanan keuangan pasca-Lebaran umumnya meningkat akibat akumulasi pengeluaran, mulai dari kebutuhan mudik hingga konsumsi dan pemberian hadiah.
“Pasca-Lebaran merupakan momen yang tepat untuk melakukan reset finansial. Disiplin mengelola arus kas, mengendalikan utang, serta menyiapkan dana darurat perlu dilakukan, dan dilengkapi dengan proteksi,” kata Yan, Selasa (31/3/2026).
Menurutnya, jika keuangan tidak dikelola dengan baik, maka dapat memicu ketidakseimbangan arus kas. Karena ketahanan finansial tidak hanya ditentukan oleh besarnya penghasilan, tetapi juga kemampuan mengelola arus kas, menyiapkan dana darurat, serta mengendalikan utang.
“Maka, alokasi keuangan idealnya, yakni 50–60 persen untuk kebutuhan rutin, 10–20 persen untuk tabungan dan dana darurat, serta dilengkapi perlindungan seperti asuransi jiwa dan kesehatan yang bukan sekadar biaya, tetapi instrumen perlindungan untuk meminimalkan dampak finansial dari risiko tak terduga,” ungkapnya.
Selain masalah finansial, aspek kesehatan juga menjadi perhatian. Spesialis gizi klinik dari RSPI Pondok Indah, dr. Juwalita Surapsari, mengingatkan, perubahan pola makan dan aktivitas selama Ramadan dan Lebaran berpotensi memicu gangguan kesehatan.
“Peningkatan konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak dapat berdampak pada kenaikan berat badan serta risiko gangguan metabolik, seperti peningkatan kadar kolesterol, gula darah, dan tekanan darah,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya prinsip Know Your Numbers melalui pemeriksaan rutin, termasuk cek tekanan darah, gula darah, dan indeks massa tubuh.
“Deteksi dini melalui pemeriksaan berkala merupakan langkah preventif yang lebih cerdas dibandingkan pengobatan jangka panjang,” paparnya.
Ia menegaskan, data Kementerian Kesehatan juga menunjukkan Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes melitus, dan obesitas semakin meningkat pada kelompok usia muda, di rentang usia 16-30 tahun. Peningkatan ini dipicu pola konsumsi dan gaya hidup yang tidak sehat, termasuk rendahnya aktivitas fisik pada era digital.
Tren peningkatan PTM pada usia muda adalah peringatan, risiko kesehatan dapat muncul lebih dini. Pasca-Lebaran dapat dimanfaatkan untuk kembali membangun pola hidup sehat dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala,” tutup dr. Juwalita.
Editor : Elva Setyaningrum
Artikel Terkait
