Rifky Assamady mengingatkan bahwa pendekatan ini mendorong pergeseran gaya kepemimpinan dari reaktif menjadi antisipatif (anticipatory governance). Dengan tata kelola ini, risiko fiskal dapat dikendalikan sejak dini dan krisis bisa diredam sebelum meledak. Selain itu, sinergi lintas fungsi diperkuat guna meruntuhkan sekat-sekat ego sektoral (silo mentality) yang sering menghambat kemajuan.
"Manajemen risiko sejatinya selaras dengan prinsip kehidupan dan nilai religi. Di dalamnya terkandung nilai istiqomah atau konsistensi, kejujuran, serta tanggung jawab. Sikap rendah hati (humble) untuk terus belajar dari kesalahan menjadi fondasi utama dalam membangun budaya risiko yang sehat," bebernya.
Penguatan ini diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial. Manajemen risiko harus melahirkan perubahan perilaku nyata, membangun organisasi yang adaptif, dan menjamin keberlanjutan perusahaan di masa depan.
Editor : Vitrianda Hilba SiregarEditor Jakarta
Artikel Terkait
