JAKARTA, iNewsTangsel.id - Kehadiran bazar buku internasional Big Bad Wolf (BBW) Books di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang pada pada 29 April hingga 3 Mei 2026 ini kembali menjadi ruang pertemuan sosial yang mendorong tumbuhnya budaya literasi di tengah masyarakat perkotaan. Diselenggarakan selama 5 hari dengan konsep 24 jam nonstop, kegiatan ini menghadirkan akses membaca yang lebih fleksibel bagi berbagai kalangan.
"Konsep operasional 24 jam ini, kami ingin memberi kesempatan bagi masyarakat dengan latar belakang aktivitas berbeda untuk tetap terlibat, mulai dari pelajar, pekerja, hingga keluarga. Pola ini tidak hanya memperluas akses terhadap buku, tetapi juga menciptakan dinamika interaksi sosial yang berlangsung sepanjang waktu," kata Country Director BBW Indonesia, Marthius Wandi Budianto, Kamis (16/4/2026).
Menurut Marthius, tingginya antusiasme pengunjung mencerminkan kebutuhan masyarakat akan ruang literasi yang inklusif. Sehingga bazar buku ini berkembang menjadi wadah yang tidak hanya berorientasi pada penjualan, tetapi juga membangun kebiasaan membaca sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
"Antusiasme masyarakat terhadap bazar ini menunjukkan literasi tidak hanya soal akses terhadap buku, tetapi juga tentang membangun kebiasaan dan ruang kebersamaan. Sehingga banyak keluarga dan komunitas yang memanfaatkan acara ini sebagai sarana rekreasi edukatif," ujarnya.
Sementara itu, pendiri BBW, Andrew Yap, menilai, akses terhadap buku memiliki peran penting dalam membentuk pola pikir masyarakat. Karena setiap buku yang dibaca dapat membuka perspektif baru dan memperluas wawasan, sehingga berdampak pada kualitas interaksi sosial.
"Dalam penyelenggaraan tahun ini, kami menghadirkan jutaan buku internasional dari berbagai kategori dengan potongan harga hingga 90 persen. Ketersediaan buku dengan harga terjangkau menjadi salah satu strategi untuk mendorong minat baca, terutama di kalangan pelajar dan keluarga," terangnya.
Selain itu, lanjutnya, berbagai aktivitas interaktif yang dihadirkan turut memperkuat pengalaman kolektif pengunjung. Tantangan menyusun buku dan area pengalaman menjadi medium partisipatif yang mendorong keterlibatan aktif sekaligus mempererat hubungan antarindividu.
"Melalui penyelenggaraan yang berkelanjutan di berbagai kota, kegiatan ini menunjukkan literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca, tetapi juga menjadi bagian dari praktik sosial yang memperkuat keterhubungan masyarakat di ruang publik," tutup Andrew.
Editor : Elva Setyaningrum
Artikel Terkait
