JAKARTA, iNewsTangsel.id - Penyandang disabilitas, khususnya komunitas tuli, kini mendapat ruang lebih luas untuk berkarya dan mandiri secara ekonomi melalui pelatihan membatik yang terstruktur dan inklusif. Program ini membuka akses keterampilan sekaligus peluang usaha bagi kelompok yang selama ini kerap menghadapi keterbatasan akses kerja.
Pelatihan membatik untuk komunitas tuli tidak hanya mengajarkan teknik produksi, tetapi juga membekali peserta dengan kemampuan wirausaha agar mampu bersaing di pasar. Pendekatan ini dinilai penting untuk mendorong kemandirian ekonomi sekaligus memperkuat kepercayaan diri penyandang disabilitas.
Inisiatif tersebut diwujudkan melalui kolaborasi Rumah Batik Palbatu dengan PT PLN (Persero) UID Jakarta Raya lewat peluncuran Akademi Batik Tuli(s). Program ini dirancang berkelanjutan dengan dukungan pelatihan, sertifikasi, hingga akses pemasaran produk.
Founder Rumah Batik Palbatu, Budi Dwi Haryanto, mengatakan akademi ini menjadi wadah bagi difabel tuli untuk menghasilkan karya sekaligus memperoleh penghasilan. “Kami ingin mereka tidak hanya belajar, tetapi juga mampu mandiri secara ekonomi melalui batik,” ujarnya di Jakarta, Jumat (17/4/2026).
Selain fokus pada pelatihan, inovasi juga dilakukan untuk menarik minat pasar, terutama generasi muda, melalui pengembangan batik cap dengan desain modern dan harga terjangkau. Berbagai motif baru pun terus dikembangkan dengan dukungan teknologi produksi.
Editor : Hasiholan Siahaan
Artikel Terkait
