JAKARTA, iNewsTangsel.id - Industri logistik global tengah menghadapi tekanan yang semakin kompleks akibat kenaikan biaya energi, ketegangan geopolitik, serta perubahan pola perdagangan dunia. Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya tarif pengiriman dan terganggunya kelancaran rantai pasok di berbagai negara.
Senior Vice President FIATA dan Dewan Penasihat CILT, Yukki Nugrahawan Hanafi, menjelaskan, di kawasan Asia, yang menyumbang lebih dari 40 persen perdagangan global, pelaku industri mulai beradaptasi dengan memperkuat sistem logistik berbasis transportasi multimoda. Integrasi moda transportasi laut, udara, darat, dan kereta api dinilai menjadi langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi dan ketahanan distribusi barang.
"Tekanan global justru menjadi momentum percepatan transformasi sektor logistik. Pendekatan multimoda kini menjadi kebutuhan untuk meningkatkan daya saing nasional, bukan lagi sekadar pilihan," katanya, Selasa (21/4/2026).
Diungkapkan, pembangunan infrastruktur fisik perlu diimbangi dengan pemanfaatan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Karena teknologi ini mampu meningkatkan efisiensi operasional melalui perencanaan permintaan yang lebih akurat, optimalisasi rute distribusi, serta analisis prediktif untuk mengantisipasi gangguan rantai pasok.
"Sebagai negara dengan kontribusi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia memiliki peran strategis dalam rantai pasok regional. Namun, tantangan struktural masih dihadapi, seperti tingginya biaya logistik dan ketergantungan pada transportasi darat yang mencapai sekitar 90 persen," ucapnya.
Menurutnya, untuk menjawab tantangan tersebut, integrasi digital melalui National Logistics Ecosystem (NLE) menjadi salah satu langkah penting. Platform ini memungkinkan peningkatan transparansi, efisiensi proses distribusi, serta penurunan biaya transaksi melalui konektivitas data antar pelaku industri.
"Pemanfaatan teknologi dan integrasi sistem logistik diyakini tidak hanya mampu menekan biaya, tetapi juga meningkatkan kualitas layanan dan memperkuat daya saing nasional di pasar global. Dengan kombinasi strategi multimoda, penguatan rantai pasok, dan adopsi teknologi, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mempercepat transformasi sektor logistik secara menyeluruh," pungkas Yukki.
Editor : Elva Setyaningrum
Artikel Terkait
