TANGERANG, iNewsTangsel.id -Dampak kemarau ekstrem yang diperkirakan melanda Indonesia sepanjang Juli hingga September 2026 mulai diantisipasi Pemerintah Kabupaten Tangerang. Selain meningkatkan risiko kebakaran dan kekeringan, cuaca panas berkepanjangan juga diperkirakan memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga 20 persen.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang Hendra Tarmizi mengatakan, peningkatan kasus ISPA diperkirakan terjadi di seluruh 29 kecamatan. Musim kemarau identik dengan menurunnya kualitas udara akibat debu dan polusi sehingga berpotensi meningkatkan gangguan saluran pernapasan.
"Kalau untuk kemarau ini tetap ISPA yang dominan. Secara endemi bisa meningkat sampai 20 persen di semua puskesmas atau pusat pelayanan," ujar Hendra, Selasa (14/7/2026).
Ia menjelaskan, balita dan lanjut usia (lansia) menjadi kelompok yang paling rentan mengalami komplikasi. ISPA pada kedua kelompok tersebut berpotensi berkembang menjadi pneumonia yang dapat meningkatkan angka kesakitan hingga kematian apabila tidak segera ditangani.
"Sebagai langkah antisipasi, kami menyiapkan obat-obatan untuk balita di Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) sekaligus memperkuat deteksi dini terhadap gejala seperti batuk, pilek, demam, hingga gangguan pernapasan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat," ungkapnya.
Secara terpisah, Kepala BPBD Kabupaten Tangerang Achmad Taufik menambahkan, pihaknya telah memetakan sebanyak 25 kecamatan masuk dalam zona rawan kebakaran selama musim kemarau. Kawasan industri, pergudangan, serta lapak pengelolaan limbah menjadi lokasi yang dinilai paling berisiko.
"Kecamatan Kosambi, Teluknaga, Cikupa, Curug, dan Tigaraksa merupakan wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi berdasarkan riwayat kejadian kebakaran pada musim kemarau sebelumnya," kata Taufik.
Selain ancaman kebakaran, lanjutnya, pihaknya juga mulai mengantisipasi dampak kekeringan. Hingga pertengahan Juli, Kecamatan Curug menjadi wilayah pertama yang dilaporkan mengalami krisis air bersih.
"Kami bersama Perumdam dan Dinas Perumahan, Permukiman, dan Pemakaman (Perkim) telah mendistribusikan bantuan air bersih kepada warga terdampak," imbuhnya.
Taufik menegaskan, penanganan kekeringan dilakukan secara terpadu dengan melibatkan berbagai instansi agar kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung.
Editor : Elva Setyaningrum
Artikel Terkait
