JAKARTA, iNewsTangsel.id - Kenaikan biaya layanan kesehatan atau inflasi medis diperkirakan akan menjadi tantangan besar bagi masyarakat Indonesia pada 2026. Berdasarkan laporan MMB Asia Health Trends 2026, inflasi medis di Indonesia diproyeksikan mencapai 17,8 persen, tertinggi di Asia dan melampaui rata-rata kawasan yang sebesar 12,5 persen.
"Kondisi ini membuat masyarakat semakin khawatir terhadap keberlanjutan perlindungan kesehatan yang dimiliki, terutama agar biaya asuransi tetap terjangkau di tengah risiko penyakit dan biaya perawatan yang terus meningkat," kata Head of Product Allianz Life Syariah Indonesia, Rina Triana, Kamis (16/7/2026).
Ia memaparkan, meningkatnya biaya medis merupakan tantangan yang tengah dihadapi oleh seluruh ekosistem kesehatan, termasuk asuransi. Selain dipengaruhi inflasi dan perkembangan perawatan medis, tekanan terhadap biaya kesehatan juga dipengaruhi oleh dinamika ekonomi makro.
"Pelemahan nilai tukar rupiah dapat turut memengaruhi biaya layanan kesehatan, mengingat sebagian komponen obat dan alat kesehatan di Indonesia masih bergantung pada impor. Jadi wajar, jika inflasi medis terus meningkat," tegas Rina.
Ia menjelaskan, dari data perusahaannya, biaya perawatan penyakit kritis dalam lima tahun terakhir juga mengalami kenaikan signifikan. Biaya perawatan penyakit jantung meningkat hingga 219 persen pada periode 2020–2025, disusul kanker sebesar 179 persen dan stroke 169 persen.
"Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kesiapan masyarakat dalam menghadapi risiko kesehatan di masa depan. Selain menjaga pola hidup sehat sebagai langkah pencegahan, perencanaan keuangan untuk kebutuhan kesehatan juga penting agar beban biaya pengobatan tidak mengganggu kondisi ekonomi keluarga ketika penyakit kritis terjadi," terang Rina.
Sementara itu, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dr. Bayushi Eka Putra menambahkan, penyakit tidak menular, khususnya penyakit jantung, masih menjadi salah satu penyebab utama tingginya biaya kesehatan di Indonesia. Bahkan, kasus penyakit jantung kini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia produktif.
"Kondisi tersebut dipicu oleh berbagai faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, kurang aktivitas fisik, stres, pola makan tidak sehat, hingga kebiasaan merokok," katanya.
Menurutnya, peyakit jantung sebenarnya dapat dicegah dengan mengendalikan faktor risikonya sejak dini. Namun ketika penyakit sudah terjadi, penanganannya membutuhkan pemeriksaan, tindakan medis, penggunaan alat kesehatan, hingga terapi obat jangka panjang yang memerlukan biaya besar.
"Perkembangan teknologi medis memang meningkatkan kualitas diagnosis dan pengobatan sehingga peluang kesembuhan pasien menjadi lebih baik. Namun, penggunaan teknologi tersebut juga ikut mendorong kenaikan biaya layanan kesehatan," ujarnya.
Selain berdampak pada kondisi fisik, lanjut, dr. Bayushi, penyakit kritis seperti penyakit jantung juga berpotensi menurunkan produktivitas serta memberikan beban finansial yang besar bagi pasien dan keluarganya.
"Karena itu, masyarakat dianjurkan menerapkan gaya hidup sehat, melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, serta mengenali faktor risiko sejak dini," imbuhnya.
Editor : Elva Setyaningrum
Artikel Terkait
