JAKARTA, iNewsTangsel.id - Kemampuan musisi disabilitas dalam mengolah musik dan tampil di panggung profesional menjadi sorotan dalam konser inklusif bertajuk Senada: Seni dalam Nada Disabilitas. Kolaborasi ini sekaligus menantang pandangan masyarakat yang masih kerap memandang keterbatasan fisik sebagai penghalang untuk berkarya.
Penyanyi Krisdayanti mengaku terkesan dengan kemampuan musisi disabilitas yang terlibat dalam persiapan konser tersebut. Bahkan, aransemen lagu populernya, Mencintaimu, dirombak secara menyeluruh oleh para musisi yang tergabung dalam Latte Band.
"Saya belum sempat duduk sudah kaget. Karena aransemen lagu Mencintaimu itu dibuat benar-benar baru dan berubah. Itu yang bikin saya terkesima dan terharu," kata Krisdayanti, Kamis (5/11/2026).
Konser yang digelar Lembaga Daya Dharma Keuskupan Agung Jakarta (LDD-KAJ) tersebut akan berlangsung di Balai Sarbini, Jakarta, pada Minggu, 15 November 2026. Selain Krisdayanti, pertunjukan ini melibatkan Laetitia Disability Choir, Latte Band, Samuel James, Margareth, serta penampilan kolaboratif Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo.
Krisdayanti mengatakan proses latihan bersama musisi disabilitas berjalan lancar. Ia menilai para pemain memiliki kemampuan musikalitas dan profesionalisme yang tidak berbeda dengan musisi pada umumnya.
Menurut penyanyi yang akrab disapa KD itu, para musisi disabilitas mampu membaca notasi, memainkan instrumen, hingga membangun kekompakan dalam waktu relatif singkat.
"Mereka sudah sangat profesional. Jadi membaca notes, kemudian bermain kolaborasi, ibaratnya saatnya menyalakan lampu. Jadi tidak ada kesulitan. Bahkan kita cukup klop," ujarnya.
Dalam konser tersebut, Krisdayanti dijadwalkan membawakan dua lagu, yakni Mencintaimu dan Cobalah Setia. Lagu kedua akan diiringi Latte Band dengan aransemen yang disesuaikan dengan karakter musik para pemain.
Perwakilan Sahabat Disabilitas, Rio Darmawan, menjelaskan konser akan menampilkan total 10 lagu. Sebanyak lima lagu dibawakan oleh band, lima lainnya oleh kelompok paduan suara, serta beberapa nomor melalui kolaborasi bersama.
Ia mengatakan pemilihan lagu dan musisi dilakukan dengan mempertimbangkan karakter vokal serta potensi musikalitas masing-masing penampil. Aransemen juga diubah untuk menghadirkan perpaduan karakter musik yang berbeda.
"Kami ingin mencoba cross-culture, sehingga aransemen musiknya kami rombak dan sesuaikan," kata Rio.
Menurut Rio, konser ini bukan sekadar pertunjukan musik, melainkan ruang untuk menunjukkan bahwa penyandang disabilitas memiliki kemampuan dan kesempatan yang sama dalam industri kreatif.
"Kami ingin membuktikan, seorang diva sekalipun jika diiringi oleh teman-teman disabilitas dengan aransemen baru, mereka pasti bisa. Karena ini gerakan kemanusiaan, kita semua saling bahu-membahu membuat sebuah perubahan," ujarnya.
Sementara itu, Kardinal Ignatius Suharyo mengatakan konser Senada menjadi bagian dari rangkaian peringatan 64 tahun Lembaga Daya Dharma. Kegiatan tersebut mencerminkan komitmen pelayanan terhadap kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian, termasuk penyandang disabilitas.
Ia menilai penghargaan terhadap martabat manusia harus diwujudkan melalui tindakan nyata, termasuk memberikan ruang bagi penyandang disabilitas untuk menunjukkan kemampuan dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial.
Krisdayanti juga menekankan pentingnya keberagaman dan toleransi sebagai bagian dari kehidupan berbangsa. Menurut dia, setiap orang memiliki kesempatan untuk memberikan kontribusi positif tanpa dibatasi latar belakang maupun kondisi fisik.
Konser Senada diharapkan menjadi pengingat bahwa inklusivitas bukan sekadar wacana, melainkan harus diwujudkan melalui kesempatan yang setara bagi setiap orang untuk berkarya dan memperoleh pengakuan atas kemampuannya.
Editor : Hasiholan Siahaan
Artikel Terkait
