Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Cegah Stunting, Ahli Gizi Hadirkan Solusi Inovatif untuk Generasi Sehat
Advertisement . Scroll to see content

Waspada Bahaya Gula Tersembunyi di Susu Formula Anak, Ahli Gizi dan Nutrisi Ungkap Hal Ini

Minggu, 15 Maret 2026 | 19:46 WIB
  • author Aries
Waspada Bahaya Gula Tersembunyi di Susu Formula Anak, Ahli Gizi dan Nutrisi Ungkap Hal Ini
Waspada kadar gula tinggi pada susu formula anak. (Foto: ist)

JAKARTA, iNewsTangsel - Industri susu formula di Indonesia kini memasuki babak baru seiring dengan tingginya tuntutan konsumen akan transparansi komposisi nutrisi yang jauh lebih sehat bagi pertumbuhan buah hati. Para orang tua mulai menyadari bahwa konsumsi gula berlebih dalam jangka panjang dapat memicu berbagai masalah kesehatan serius bagi metabolisme anak-anak mereka.

Menjawab kegelisahan tersebut, susu formula dengan konsep clean formula yang secara total menghapus penggunaan gula sukrosa, maltodekstrin, hingga sirup jagung menjadi solusi para orang tua. Langkah berani ini diambil guna memastikan anak-anak mendapatkan asupan nutrisi esensial tanpa harus terpapar bahan tambahan sintetis yang tidak diperlukan tubuh.

Sebagai pengganti karbohidrat buatan, susu formula anak Mirugo memilih laktosa alami dari susu sapi yang memiliki indeks glikemik rendah sehingga jauh lebih aman bagi kesehatan gula darah anak. Strategi ini memungkinkan produk tetap memiliki rasa yang lezat namun dengan standar keamanan nutrisi yang tetap terjaga secara ketat dan profesional.

Beberapa pakar yang terlibat dalam inovasi clean formula adalah pakar nutrisi pediatrik asal Amerika Serikat yang telah memenangkan berbagai penghargaan internasional, Prof Dr Michael F Holick; ahli gizi Indonesia dan konsultan laktasi bersertifikat internasional, Dr Dwi Susilowati, MSc, SpGK, IBCLC; dan peneliti Jepang dengan pengalaman panjang dalam riset DHA, Yukiyoshi.

Menurut Prof Holick, anak yang mendapatkan asupan vitamin D dan DHA dalam jumlah optimal menunjukkan perkembangan otak yang lebih baik secara struktur dan fungsi. Pada 1.000 hari pertama kehidupan menurut dia adalah periode emas bagi pembentukan otak dan sistem saraf anak.

Kekurangan nutrisi penting, seperti DHA dan vitamin D, di fase ini dapat memengaruhi kemampuan belajar dan perkembangan kognitif anak di masa depan.

Editor: Aris

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut