Akselerasi Industrialisasi dan Hilirisasi Mampu Pangkas Biaya Logistik Nasional di Melambung
JAKARTA, iNewsTangsel - Tingginya biaya logistik nasional kembali menjadi sorotan tajam karena dinilai menekan daya saing ekspor Indonesia di tengah ketidakpastian global. Kondisi ini tidak hanya membebani operasional dunia usaha, tetapi juga berpotensi menghambat akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.
Senior Vice President FIATA, Yukki Nugrahawan Hanafi, menegaskan bahwa persoalan ini merupakan dampak dari masalah struktural yang belum terselesaikan.
"Kuncinya adalah membangun struktur ekonomi yang lebih seimbang melalui industrialisasi, hilirisasi, dan pemerataan pusat pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Yukki, dalam keterangannya, Senin (18/5/2026).
Hingga saat ini, aktivitas ekonomi dan pergerakan barang di Indonesia dinilai masih didominasi dan terkonsentrasi di Pulau Jawa. Padahal, berbagai sektor komoditas unggulan seperti pertambangan, perikanan, dan perkebunan justru berada di luar Pulau Jawa.
Ketimpangan sebaran industri tersebut memicu ketidakseimbangan arus perdagangan regional yang berdampak langsung pada biaya operasional. Akibatnya, banyak armada transportasi seperti truk dan kapal terpaksa kembali tanpa muatan atau mengalami empty backhaul.
Selain ketimpangan domestik, struktur perdagangan internasional Indonesia juga masih didominasi oleh skema impor CIF dan ekspor FOB. Pola ini menyebabkan nilai tambah dari sektor logistik, pelayaran, dan asuransi justru lebih banyak dinikmati pihak asing.
Oleh karena itu, penguatan ekosistem logistik yang efisien harus dilakukan melalui langkah konkret re-industrialisasi yang masif. Transformasi ini perlu diprioritaskan pada hilirisasi sektor mineral, energi, pertanian, serta perkebunan di wilayah penghasil komoditas.
Langkah strategis tersebut akan mendorong lahirnya pusat pertumbuhan ekonomi baru melalui pembangunan kawasan industri dan jaringan distribusi. Ketika daerah mampu memproduksi barang bernilai tambah, keseimbangan arus barang masuk dan keluar akan terbentuk secara alami.
Keseimbangan dua arah ini dipastikan akan meningkatkan utilisasi armada logistik sekaligus menurunkan biaya distribusi secara struktural. Tanpa adanya hilirisasi dan aktivitas manufaktur yang merata, Indonesia akan terus terjebak dalam masalah ketimpangan logistik.
Editor : Aris