Kasus SMK Letris Pamulang Meluas, Siswi Akui Pernah Dipegang hingga Diajak Mandi Bareng
“Itu peristiwanya saat saya cedera engkel. Datanglah Pak R membantu urut sakit saya. Di situ saya diminta tiduran, diurut dan tiba-tiba sampai paha atas saya,” ungkapnya.
Tak hanya Bunga, siswi lain yang disamarkan dengan nama Mawar juga mengaku pernah mengalami perlakuan yang membuatnya merasa terganggu secara psikologis. Mawar menyebut oknum guru yang sama pernah melontarkan ucapan bernada tidak pantas di hadapannya.
“Bapak pernah mengucapkan mandi bareng di depan saya. Di situ saya syok. Tidak hanya itu, bapak juga pernah komentar di akun TikTok teman saya. Saya tahu karena teman saya mengadu,” terang Mawar.
Pengakuan dua siswi tersebut langsung memantik reaksi dari para siswa lain yang hadir dalam aksi damai itu. Sejumlah siswa terlihat memberikan dukungan moral dan mendampingi para siswi saat menyampaikan pengakuannya di tengah lapangan sekolah.
Sementara itu, guru berinisial R yang disebut dalam pengakuan para siswi membantah seluruh tudingan tersebut. Ia mengaku tidak pernah melakukan tindakan sebagaimana yang disampaikan para siswa.
Di sisi lain, Wakil Kepala Sekolah SMK Letris Indonesia 2 Pamulang, Firdaus Shaugie menegaskan bahwa pihak sekolah akan melakukan pemeriksaan internal secara menyeluruh menyusul munculnya pengakuan para siswi tersebut.
“Kami tidak akan menutup mata terhadap setiap laporan maupun pengakuan dari siswa. Sekolah akan melakukan pemeriksaan internal secara objektif dan mendalami seluruh keterangan yang muncul setelah aksi speak up ini,” ujar Firdaus.
Firdaus menegaskan, pihak sekolah akan mengambil tindakan tegas apabila nantinya ditemukan adanya pelanggaran yang dilakukan oleh oknum guru dimaksud.
“Jika terbukti ada tindakan yang melanggar etika, apalagi sampai mengarah pada pelecehan atau penyalahgunaan relasi kuasa terhadap siswa, tentu akan ada sanksi berat. Sekolah harus menjadi tempat yang aman bagi seluruh siswa,” tegasnya.
Ia juga meminta para siswa yang merasa pernah mengalami atau mengetahui dugaan tindakan serupa agar tidak takut melapor dan menyampaikan keterangan melalui mekanisme yang disediakan sekolah.
Kasus ini kini semakin menambah sorotan terhadap kondisi internal SMK Letris Indonesia 2 Pamulang yang sebelumnya telah menjadi perhatian publik akibat viralnya dugaan child grooming di media sosial.
Gelombang keberanian para siswi untuk bersuara dinilai menjadi sinyal kuat bahwa isu perlindungan perempuan dan anak di lingkungan pendidikan tidak bisa lagi dianggap sepele.
Publik kini menanti langkah konkret dari pihak sekolah maupun aparat penegak hukum untuk memastikan lingkungan pendidikan terbebas dari dugaan tindakan asusila dan penyalahgunaan relasi kuasa terhadap siswa.
Editor : Aris