Waspadai Migrain di Usia Produktif, Kenali Gejala, Pemicu dan Cara Mengendalikannya
JAKARTA, iNewsTangsel - Masyarakat diingatkan untuk tidak menyamakan semua keluhan sakit kepala sebagai migrain. Perlu diperhatikan, keluhan seperti pusing, migrain, dan vertigo merupakan kondisi yang berbeda dengan penyebab serta penanganan yang tidak sama.
Menurut dokter dari Rumah Sakit Siloam Purwakarta, dr. Ivana Lola, pemahaman yang tepat mengenai gangguan kesehatan tersebut penting agar masyarakat tidak salah mengenali gejala yang dialami.
Dr. Ivana menjelaskan bahwa pusing merupakan istilah umum yang digunakan seseorang saat merasakan ketidaknyamanan pada kepala, sensasi melayang, atau tubuh terasa tidak stabil. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor dan tidak selalu berkaitan dengan gangguan saraf tertentu.
Sementara itu, migrain merupakan salah satu jenis sakit kepala yang memiliki karakteristik khusus. Migrain biasanya ditandai dengan nyeri berdenyut pada satu sisi kepala yang kerap disertai mual, muntah, serta sensitivitas terhadap cahaya dan suara.
“Sedangkan vertigo adalah sensasi seolah-olah diri sendiri atau lingkungan sekitar sedang berputar, padahal sebenarnya tidak. Kondisi ini umumnya berkaitan dengan gangguan keseimbangan di telinga bagian dalam atau saraf keseimbangan,” jelas dr. Ivana Lola dalam keterangannya, dikutip Selasa (16/6/2026).
Ia menegaskan bahwa tidak semua pusing merupakan migrain dan tidak semua migrain termasuk vertigo. Karena itu, masyarakat perlu memahami perbedaan gejala agar dapat memperoleh penanganan yang sesuai dan tepat sasaran.
Menurut dr. Ivana, migrain paling sering menyerang kelompok usia produktif antara 20 hingga 50 tahun. Bahkan, pada usia 40 tahun ke atas, sebagian orang dapat mengalami peningkatan frekuensi migrain akibat berbagai faktor pemicu yang muncul seiring bertambahnya usia.
“Perubahan hormon, terutama pada perempuan yang memasuki masa perimenopause, tingkat stres pekerjaan dan keluarga yang tinggi, pola tidur tidak teratur, hingga penyakit penyerta seperti hipertensi, gangguan kecemasan, dan gangguan tidur dapat meningkatkan risiko migrain,” ujarnya pada sesi seminar kesehatan bertajuk "Kenali Migrain, Kendalikan Gejalanya untuk Hidup Lebih Berkualitas" di Superhouse Paskal, Bandung.
Selain itu, pola hidup tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik juga berkontribusi terhadap meningkatnya risiko migrain. Dr. Ivana mengingatkan bahwa seseorang yang baru pertama kali mengalami sakit kepala berat setelah usia 40 tahun sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter untuk memastikan tidak ada penyebab lain yang lebih serius.
Ia juga mengungkapkan bahwa setiap penderita migrain memiliki pemicu yang berbeda-beda. Namun, beberapa jenis makanan dan minuman seperti makanan tinggi MSG, daging olahan, keju fermentasi, cokelat, kafein berlebihan, alkohol, serta pemanis buatan tertentu sering dilaporkan memicu serangan migrain.
Sebaliknya, penderita migrain dianjurkan memperbanyak konsumsi sayur dan buah segar, ikan kaya omega-3 seperti salmon dan tuna, serta kacang-kacangan dan biji-bijian utuh. Selain menjaga asupan makanan sehat, dr. Ivana juga menekankan pentingnya pola makan teratur dan mencukupi kebutuhan cairan tubuh karena telat makan sering menjadi salah satu pemicu utama migrain.
Editor : Aris