get app
inews
Aa Text
Read Next : Micro Escape: Menemukan Jeda di Balik Layar Higgs Games Island

22 Persen Pekerjaan Akan Hilang, Bagaimana Pendidikan Menjawab Tantangan Ini?

Senin, 22 Juni 2026 | 20:15 WIB
header img
Ke depan, pendidikan tinggi diprediksi akan semakin bergeser dari sekadar tempat belajar menjadi ekosistem pembentuk karier. Foto ist

TANGERANG, iNewsTangsel.id - Di tengah disrupsi dunia kerja akibat perkembangan Artificial Intelligence (AI), perguruan tinggi dituntut tak lagi sekadar mengajar teori. Pergeseran ini mendorong munculnya model pendidikan baru yang lebih fokus pada kesiapan karier sejak dini.

Fenomena career mismatch yang masih menyentuh sekitar 35% pemuda Indonesia menjadi sinyal kuat bahwa sistem pendidikan perlu beradaptasi lebih cepat. Apalagi, proyeksi global menyebut sekitar 22% jenis pekerjaan akan berubah sebelum 2030—menuntut lulusan yang tak hanya cerdas akademik, tetapi juga adaptif dan kreatif.

Menjawab tantangan tersebut, pendekatan Digital Transformation & AI Experience Ecosystem, yang tidak hanya mengenalkan teknologi, tetapi juga membentuk pola pikir kritis dan etis dalam memanfaatkan AI.

Model ini menempatkan mahasiswa sebagai problem solver, bukan sekadar pengguna teknologi.

Direktur Kampus BINUS Alam Sutera, Prof. Dr. Lim Sanny, menegaskan bahwa kampus kini harus menjadi penghubung nyata antara dunia pendidikan dan industri. “Mahasiswa perlu pengalaman langsung, bukan hanya teori. Dunia kerja berubah cepat, sehingga kesiapan adaptasi menjadi kunci,” ujarnya, Senin (22/6/2026).

Pendekatan ini diperkuat melalui program seperti Enrichment Program, yang memberi kesempatan mahasiswa terjun langsung ke industri sebelum lulus. Dengan demikian, mahasiswa dapat membangun portofolio dan memahami kebutuhan pasar kerja sejak awal.

Dari perspektif orang tua, keputusan memilih kampus kini juga semakin strategis. Presiden Direktur PT Meta Life Indonesia, Marjuky CH, menilai pendidikan harus dilihat sebagai investasi jangka panjang yang memberikan kepastian arah karier. “Yang penting bukan hanya kuliah, tapi bagaimana anak punya pengalaman dan arah masa depan,” katanya.

Dengan integrasi antara teknologi, pengalaman industri, dan pengembangan soft skills, BINUS Alam Sutera mencoba menjawab kekhawatiran terbesar orang tua: apakah pendidikan tinggi masih menjamin masa depan? Model ini menunjukkan bahwa jawabannya bukan sekadar “ya”, tetapi “tergantung bagaimana sistem itu dirancang.”

Ke depan, pendidikan tinggi diprediksi akan semakin bergeser dari sekadar tempat belajar menjadi ekosistem pembentuk karier. "Kampus yang mampu beradaptasi dengan perubahan inilah yang akan menjadi pilihan utama generasi masa depan", tegas Lim Sanny.

Editor : Hasiholan Siahaan

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut