Krisis Iklim dan Bencana, Anak Perempuan Rentan Trauma hingga Putus Sekolah
JAKARTA, iNewsTangsel.id - Iklim dan bencana tidak hanya berdampak pada kerusakan lingkungan serta kehilangan tempat tinggal, tapi juga meningkatkan kerentanan anak-anak, terutama anak perempuan. Kondisi tersebut membuat aspek perlindungan, pendidikan, kesehatan mental, hingga akses air bersih perlu menjadi bagian penting dalam penanganan bencana.
Chef Impact Officer Plan International Pete Manfield mengatakan, upaya menghadapi risiko bencana perlu dilakukan sejak sebelum bencana terjadi. Karena meningkatnya frekuensi dan intensitas krisis iklim membuat pendekatan terhadap bencana tidak bisa lagi hanya mengandalkan respons setelah kejadian.
"Untuk itu, masyarakat, pemerintah, organisasi lokal, hingga sektor swasta harus memperkuat kapasitas komunitas agar mampu melakukan pencegahan dan merespons ancaman bencana secara lebih efektif," kata Pete, Kamis (13/8/2026).
Menurut Pete, pendekatan berbasis komunitas menjadi salah satu kunci dalam menghadapi berbagai risiko yang semakin dapat diprediksi, seperti siklon, kekeringan, banjir, maupun gempa bumi.
"Kalau bencana bisa diprediksi, kita harus mempersiapkannya, bukan hanya merespons setelah bencana terjadi," tegasnya.
Menurutnya, persiapan menghadapi bencana juga perlu melibatkan anak-anak dan kaum muda, termasuk anak perempuan. Mereka tidak semestinya hanya ditempatkan sebagai penerima bantuan, tapi juga diberi ruang untuk menyampaikan kebutuhan dan mengambil bagian dalam upaya membangun ketahanan komunitas.
"Sistem perlindungan anak juga perlu dipersiapkan agar anak yang terpisah dari keluarga selama proses evakuasi dapat segera ditemukan dan dipertemukan kembali," kata Pete.
Sementara itu, Executive Director Plan Indonesia Dini Widiastuti mengakui, melalui studi Girls in Crisis yang dilakukannya pascabencana di Sumatera, ditemukan dampak krisis terhadap anak perempuan diusia 10 hingga 19 tahun, tidak hanya berkaitan dengan kehilangan rumah, tapi juga menyangkut rasa aman, pendidikan, kesehatan mental, dan perlindungan. Ternyata, kebutuhan tersebut kerap luput dari perhatian adalah rasa aman.
"Kondisi tersebut dapat membuat mereka merasa tidak aman, khususnya ketika harus tinggal di tempat pengungsian atau lingkungan yang belum dikenal. Dampaknya berbeda antara anak-anak dan orang dewasa, terutama anak perempuan. Aspek perlindungan ini sering kali tidak menjadi perhatian utama," kata Dini.
Dini memaparkan, dampak lainnya berkaitan dengan keberlanjutan pendidikan. Kerusakan rumah dan sekolah, relokasi keluarga, serta kondisi ekonomi pascabencana dapat menyebabkan anak-anak kesulitan kembali bersekolah. Bagi anak perempuan, tekanan ekonomi keluarga juga berpotensi meningkatkan risiko perkawinan anak. Karena itu, memastikan anak tetap dapat mengakses pendidikan dinilai penting sebagai bagian dari pemulihan setelah bencana.
"Selain pendidikan, kebutuhan dasar seperti air bersih, sanitasi dan kebersihan juga perlu diperhatikan dalam penanganan bencana. Kebutuhan tersebut harus dirancang dengan mempertimbangkan kondisi anak dan remaja perempuan, bukan hanya orang dewasa," imbuhnya.
Dini mengatakan, aspek kesehatan mental juga menjadi perhatian. Trauma akibat bencana dapat bertahan meskipun kondisi darurat telah berakhir. Karena itu, dukungan psikososial perlu menjadi bagian dari respons bencana dan diberikan berdasarkan kebutuhan anak.
"Untuk itu, suara anak perempuan perlu dilibatkan dalam proses perencanaan pemulihan. Mereka perlu diberi kesempatan menyampaikan pandangan ketika pemerintah maupun pemangku kepentingan merancang pembangunan kembali sekolah, fasilitas umum dan lingkungan tempat tinggal. Semua itu dilakukan untuk memastikan mereka dapat mengaksesnya dengan aman dan nyaman," ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Regional Director Plan International Asia Pasifik Ram Kishan menambahkan, meningkatnya risiko bencana akibat perubahan iklim, perlindungan anak dan anak perempuan perlu ditempatkan sebagai bagian dari agenda utama pembangunan ketahanan bencana. Selain memastikan kebutuhan dasar terpenuhi, keterlibatan anak dalam pengambilan keputusan dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih aman dan sesuai dengan kebutuhannya.
"Keputusan yang diambil saat ini akan menentukan kondisi masyarakat di masa mendatang. Karena itu, mitigasi perubahan iklim tidak dapat hanya dilakukan ketika bencana sudah terjadi, melainkan harus dimulai melalui langkah pencegahan dan penguatan ketahanan masyarakat," tutup Ram.
Editor : Elva Setyaningrum