get app
inews
Aa Text
Read Next : Defisit Pasokan Global Berlanjut, Investasi Perak Kian Dilirik Investor Pasar Komoditas

Transisi Energi Bersih Dorong Daya Saing Industri Indonesia di Pasar Global

Kamis, 20 Agustus 2026 | 17:51 WIB
header img
Transisi energi bersih dan penerapan ESG dinilai semakin penting bagi industri Indonesia untuk memenuhi standar pasar global serta memperkuat daya saing produk. [Foto: ist]

JAKARTA, iNewsTangsel - Aspek keberlanjutan kini dinilai tidak lagi sekadar menjadi tren dalam penerapan environmental, social, and governance (ESG) perusahaan di Indonesia. Standar pasar global yang terus berkembang membuat keberlanjutan semakin dipandang sebagai salah satu persyaratan bagi produk Indonesia untuk dapat bersaing dan masuk ke pasar internasional.

Menurut Indonesia Head of Research PT Bank DBS Indonesia William Simadiputra, perusahaan perlu memasukkan aspek keberlanjutan ke dalam strategi bisnis dan keputusan komersial. 

“ESG implementation itu bukan hanya sebagai requirement atau seperti suatu yang mengikuti tren, ini ke depannya menjadi requirement dari sebuah bisnis atau pasar yang kita tuju,” kata William di Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Menurut William, perubahan standar tersebut membuat perusahaan tidak lagi dapat memisahkan aspek sustainability dari strategi komersial. Perusahaan yang ingin memperluas pasar perlu memastikan produk yang dihasilkan mampu memenuhi persyaratan keberlanjutan di negara tujuan.

Tuntutan tersebut juga memengaruhi pertimbangan perusahaan dalam menentukan investasi dan pengembangan bisnis. Jika sebelumnya ukuran pasar dan tingkat profitabilitas menjadi pertimbangan utama, kini kemampuan produk memenuhi standar keberlanjutan turut menentukan peluang penerimaan di pasar global.

William menilai penerapan prinsip keberlanjutan dapat menjadi keunggulan kompetitif bagi perusahaan nasional. “Salah satunya adalah menjawab bagaimana kita memberikan suatu competitive edge yang berbeda atau memberikan unique competitive advantages terhadap competitor,” ujarnya.

Dalam konteks Indonesia, peluang penguatan aspek keberlanjutan terlihat di sejumlah sektor strategis, mulai dari energi terbarukan, teknologi dan pusat data, pangan dan agribisnis, pertambangan dan logam, hingga kesehatan dan farmasi. Kebutuhan tersebut semakin relevan seiring berkembangnya hilirisasi, termasuk produksi baterai dan kendaraan listrik yang terhubung dengan rantai pasok global.

Di sektor pangan dan agribisnis, keberlanjutan dapat diarahkan pada peningkatan produktivitas tanpa terus membuka lahan baru melalui strategi seperti replanting, digital traceability, dan sertifikasi. Sementara di sektor energi, pengembangan energi terbarukan dinilai semakin penting untuk menopang kebutuhan investasi baru, terutama di tengah pertumbuhan pusat data dan industri hilirisasi.

Senior Vice President Institutional Banking Group PT Bank DBS Indonesia Agnes Theresa mengatakan DBS Indonesia tidak lagi memberikan pendanaan terhadap perusahaan untuk pengembangan batu bara baru dan melakukan pemantauan emisi berdasarkan sektor industri. 

“Pada waktu kami melakukan onboarding new customer ataupun existing customer on annual basis, kami akan melakukan review secara mendalam mengenali ESG compliance, risk and opportunities dari masing-masing customer kami,” kata Agnes. 

Lebih lanjut Agnes menyatakan bahwa strategi, target jangka pendek dan panjang, realisasi, serta science-based target turut menjadi bagian dari evaluasi sebelum kerja sama dilanjutkan.

Editor : Aris

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut