Pascakebakaran, Warga Desa Adat Sade Mulai Bangkit dan Pulihkan Kehidupan
JAKARTA, iNewsTangsel.id - Warga Desa Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, masih menjalani proses pemulihan setelah kebakaran pada Sabtu (22/8/2026) lalu. Pemulihan warga tidak sebatas memenuhi kebutuhan dasar, tapi juga berkaitan dengan upaya mempertahankan aktivitas sosial, ekonomi, pendidikan, dan budaya masyarakat Sade.
Seperti yang dilakukan PT Kredit Utama Fintech Indonesia (RupiahCepat) melalui program GROW with RupiahCepat menyalurkan bantuan bagi masyarakat terdampak. Bantuan difokuskan pada kebutuhan sehari-hari warga, terutama anak-anak, perempuan, bayi, dan keluarga yang terdampak.
"Untuk memastikan bantuan yang diberikan sesuai dengan kondisi di lapangan, kami berkoordinasi dengan Chili House Foundation untuk mengidentifikasi kebutuhan masyarakat yang paling mendesak dan belum terpenuhi," Direktur Utama PT Kredit Utama Fintech Indonesia, Balandina Siburian, dalam keterangan, Minggu (30/8/2026).
Menurutnya, koordinasi ini dilakukan agar bantuan yang disalurkan dapat menjawab kebutuhan warga secara tepat dan relevan dengan kondisi pascakebakaran. Adapun kebutuhan yang diberikan, berupa pakaian dan pakaian dalam untuk anak maupun dewasa, perlengkapan bayi serta perlengkapan sekolah.
"Selain itu, kami juga memberikan bantuan bahan pokok berupa beras, gula, dan minyak, kebutuhan perempuan berupa pembalut, serta dua tandon air untuk mendukung pengadaan air bersih," ungkapnya.
Ia menerangkan, kehadirannya merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk memberikan kontribusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, termasuk ketika masyarakat menghadapi situasi darurat dan memasuki masa pemulihan.
“Kami turut prihatin atas musibah yang dialami masyarakat Desa Adat Sade. Dalam situasi seperti ini, kebutuhan warga tidak berhenti pada masa tanggap darurat. Anak-anak perlu kembali bersekolah, keluarga perlu memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan masyarakat perlu perlahan kembali menjalankan aktivitasnya,” ujar Balandina.
Ia mengungkapkan, bantuan yang diberikan diarahkan pada kebutuhan yang dapat segera dimanfaatkan masyarakat. Karena itu pihaknya ingin menghadirkan kontribusi yang sederhana tetapi relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
"Kami berharap dukungan ini dapat membantu meringankan beban warga, khususnya anak-anak, perempuan, dan keluarga terdampak, sekaligus menjadi bagian dari semangat bersama untuk membantu masyarakat Sade bangkit,” lanjutnya.
Sementara itu, Wakil Kepala Dusun Sade sekaligus Koordinator Posko Bantuan, Medal, menambahkan bantuan tersebut membantu warga memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama kebutuhan anak-anak setelah kebakaran.
"Kami berharal, dukungan dari berbagai pihak dapat membantu masyarakat melewati masa pemulihan dan secara bertahap kembali menjalankan aktivitas mereka," ujarnya.
Ia menjelaskan, Desa Adat Sade sendiri memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Sasak. Kawasan tersebut dikenal sebagai salah satu permukiman adat yang masih mempertahankan tradisi secara turun-temurun sekaligus menjadi salah satu tujuan wisata budaya di Lombok Tengah.
"Karena itu, dampak kebakaran turut menjadi persoalan bagi keberlangsungan aktivitas budaya masyarakat. Kerusakan terhadap perlengkapan tenun, kesenian, benda pusaka dan naskah tradisional menjadi bagian dari tantangan pemulihan yang harus dihadapi warga," imbuhnya.
Dari laporan awal pemerintah daerah, sedikitnya 120 kepala keluarga atau sekitar 320 jiwa terdampak akibat peristiwa tersebut. Kebakaran tidak hanya memengaruhi tempat tinggal warga, tapi juga aktivitas ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat setempat. Sejumlah rumah tradisional, artshop, peralatan tenun, perlengkapan kesenian, benda pusaka hingga naskah lontar turut terdampak.
Pemulihan Desa Adat Sade tidak hanya menyangkut pemulihan kehidupan keluarga yang terdampak, tetapi juga keberlanjutan komunitas dan tradisi yang telah menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Sasak.
Editor : Elva Setyaningrum