Sebanyak 96 persen pengguna menyatakan alat pelacak gizi SIGAP membantu mereka memahami pola makan anak dan mengambil keputusan pemberian makan yang lebih sesuai usia. Pendekatan ini juga mendorong keterlibatan ayah dalam pemenuhan gizi anak, memperkuat peran pengasuhan bersama di tingkat keluarga.
Pemerintah menilai pendekatan terintegrasi ini sejalan dengan penguatan layanan kesehatan primer. “Melalui Keluarga SIGAP, masyarakat tidak hanya tahu, tetapi benar-benar mengubah perilaku kesehariannya. Ini penting untuk menyiapkan generasi yang lebih sehat,” ujar dr. Niken Wastu Palupi, Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas Kementerian Kesehatan.
Editor : Hasiholan Siahaan
Artikel Terkait
