JAKARTA, iNewsTangsel.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan publik menyusul anggapan bahwa kebijakan tersebut membebani sektor pendidikan. Sejumlah akademisi menilai pandangan itu keliru karena MBG justru dipandang sebagai bagian dari upaya memperkuat kualitas pendidikan dan sumber daya manusia.
Guru Besar Keamanan Pangan dan Gizi IPB, Prof. Dr. Ir. Ahmad Sulaeman, MS., mengatakan MBG tidak semestinya diposisikan sebagai beban. Menurutnya, pemenuhan gizi merupakan elemen penting dalam proses pendidikan. “Justru ini bagian dari pendidikan. MBG itu bagian dari pendidikan, juga untuk membangun nasionalisme bagaimana mengentaskan kemiskinan. Memang jangan diadu domba dengan peran guru, dua-duanya harus jalan,” ujar Prof. Ahmad, Jum'at (23/1/2026).
Pandangan serupa disampaikan Sekretaris Pendiri Indonesian Audit Watch, Iskandar Sitorus. Ia mengkritik perdebatan yang mempertentangkan anggaran pendidikan dengan program makan bergizi. “Anak tidak akan bisa belajar dengan perut kosong. Negara wajib melihat nutrisi dan pendidikan sebagai satu kesatuan hak konstitusional yang tidak dapat dipisahkan,” katanya.
Iskandar menegaskan, gizi merupakan fondasi utama pendidikan. Kekurangan nutrisi, menurut berbagai kajian kesehatan dan pendidikan, berdampak langsung pada konsentrasi, daya serap, dan perkembangan kognitif anak. “Kalau pondasinya rapuh, hasil pendidikannya juga akan rapuh,” ujarnya.
Prof. Ahmad menambahkan, pemenuhan gizi harian terbukti berkontribusi terhadap peningkatan kemampuan kognitif dan prestasi akademik. “Berbagai studi internasional menunjukkan bahwa anak yang mendapatkan asupan gizi seimbang memiliki konsentrasi belajar lebih baik, daya ingat lebih kuat, serta performa akademik yang lebih stabil,” ungkapnya.
Praktik pemenuhan gizi di sekolah telah lama diterapkan di sejumlah negara maju. Di Amerika Serikat, program makan sekolah seperti School Breakfast Program dan National Lunch Program menjadi bagian dari kebijakan nasional. Sekolah berperan aktif memastikan siswa mendapatkan asupan gizi, sehingga anak tidak lagi terbebani persoalan sarapan atau makan siang. Pendekatan ini dinilai efektif mendukung kesehatan sekaligus kesiapan belajar di kelas.
Selain berdampak pada peserta didik, MBG juga dinilai berpotensi memberikan efek pengganda terhadap perekonomian. Jika dirancang secara matang, program ini dapat mendorong keterlibatan UMKM, petani, dan produsen pangan lokal dalam rantai pasok.
Pengalaman Amerika Serikat melalui program Women, Infant, and Child (WIC) menunjukkan bahwa intervensi gizi yang dikelola negara dapat berjalan seiring dengan penguatan sektor pertanian dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Editor : Hasiholan Siahaan
Artikel Terkait
