JAKARTA, iNewsTangsel - Tren reli pasar logam mulia global kian menempatkan komoditas perak sebagai instrumen investasi yang menarik perhatian para pelaku pasar keuangan. Penguatan harga aset ini tidak lagi dipandang sekadar mengekor emas, melainkan didorong oleh faktor fundamental serta dinamika pergerakan harga yang mandiri.
Data TradingEconomics mencatat harga perak dunia melonjak sekitar 69 persen secara tahunan dan menguat lebih dari 10 persen pada awal Agustus 2026. Di pasar domestik, harga perak batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk juga melesat dari Rp39.450 menjadi Rp44.100 per gram dalam rentang kurang dari dua pekan.
Laporan World Silver Survey 2026 mengungkapkan bahwa pasar perak global telah mengalami defisit pasokan fisik selama lima tahun berturut-turut hingga 2025. Ketidakseimbangan pasokan dan permintaan tersebut diproyeksikan berlanjut hingga 2026 dengan estimasi defisit mencapai 46,3 juta ounce.
Pendorong utama ketatnya pasokan ini berasal dari lonjakan permintaan industri teknologi bersih, seperti manufaktur panel surya, kendaraan listrik, hingga pusat data AI. Selain itu, minat masyarakat terhadap produk koin dan perak batangan tercatat meningkat 14 persen sepanjang tahun lalu.
"Perak saat ini berada pada persimpangan yang jarang terjadi: permintaan investasi yang kuat bertemu dengan defisit pasokan struktural yang sudah berlangsung enam tahun berturut-turut," kata Regional Marketing Team Lead APAC JustMarkets, Niyas Yessengarayev, dalam keterangannya, Rabu (12/8/2026).
Niyas menambahkan bahwa perak memiliki karakter ganda yang unik sebagai aset perlindungan safe haven sekaligus komoditas industri strategis. Karakteristik ini membuat respons harga perak cenderung lebih dinamis dan volatil Dibandingkan emas saat terjadi perubahan data manufaktur global.
Di sisi lain, pergerakan harga emas dunia masih berada di level tinggi sebesar US$4.418 per ounce yang ditopang oleh pelemahan indeks dolar AS dan dinamika geopolitik. Kinerja emas tetap menjadi acuan utama bagi para pelaku pasar dalam mengukur arah kebijakan suku bunga acuan global serta tingkat inflasi.
Kendati demikian, indikator rasio harga emas terhadap perak terus bergerak turun ke kisaran 68 hingga 69 pada awal Agustus 2026. Penurunan rasio tersebut mengindikasikan bahwa kinerja persentase kenaikan perak mulai mengungguli emas, sekaligus menandakan potensi nilai perak yang masih terhitung murah.
Editor : Aris
Artikel Terkait
