Obesitas Jadi Ancaman Kesehatan Global, Indonesia Hadapi Kerugian Ekonomi Puluhan Triliun

Ire Djafar
Seorang dokter menjelaskan hasil pemeriksaan kepada pasien yang mengalami obesitas saat sesi konsultasi kesehatan. Foto dok iNews

JAKARTA, iNewsTangsel.id -Peringatan World Obesity Day 2026 menyoroti semakin seriusnya persoalan obesitas di dunia, termasuk di Indonesia. World Health Organization (WHO) yang mengakui peran intervensi medis, termasuk penggunaan obat-obatan GLP-1, dalam menangani kondisi ini secara komprehensif. Pendekatan terapi berbasis hormon Glucagon-Like Peptide-1 (GLP-1) yang diklaim dapat membantu penurunan berat badan dengan mengurangi lemak tubuh tanpa menghilangkan massa otot.

Data global menunjukkan lebih dari satu miliar orang saat ini hidup dengan obesitas. Jumlah tersebut diperkirakan terus meningkat hingga mencapai sekitar empat miliar orang atau hampir setengah populasi dunia pada 2035. Secara ekonomi, kondisi ini diproyeksikan menimbulkan beban biaya kesehatan global hingga USD 3,23 triliun pada 2030.

Di Indonesia, obesitas juga menjadi tantangan kesehatan yang kian meningkat. Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan prevalensi obesitas pada orang dewasa naik dari 21,8 persen pada 2018 menjadi 23,4 persen pada 2023. Penelitian dari Institut Pertanian Bogor bahkan memperkirakan kerugian ekonomi akibat obesitas dapat mencapai sekitar Rp78,4 triliun per tahun.

Dokter spesialis gizi klinik, Diana Suganda menjelaskan obesitas merupakan penyakit kronis yang kompleks dan tidak semata-mata disebabkan oleh pola hidup.
“Secara medis obesitas adalah kondisi kronis yang dipengaruhi faktor biologis seperti hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang. Pada banyak individu sistem ini tidak bekerja optimal sehingga upaya menurunkan berat badan hanya dengan kemauan sering kali tidak berhasil,” ujarnya, Kamis (5/3/2026).

Senada dengan itu, dokter spesialis penyakit dalam M. Vardian Mahardika mengatakan pedoman layanan kesehatan nasional telah menempatkan obesitas sebagai penyakit kronis yang membutuhkan penanganan terstruktur. Penanganan tersebut meliputi perubahan gaya hidup, terapi obat, hingga tindakan bariatrik pada kasus tertentu.

Editor : Hasiholan Siahaan

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network