JAKARTA, iNewsTangsel.id -Perlambatan pertumbuhan pada anak sering kali dianggap hal biasa oleh orang tua. Padahal, kondisi ini bisa menjadi tanda adanya gangguan kesehatan serius. Salah satunya sindrom Turner, yang membutuhkan penanganan sejak dini.
Dokter Spesialis Anak Subspesialis Endokrinologi, dr. Ghaisani Fadiana, menjelaskan, salah satu indikator penting yang perlu diperhatikan adalah kecepatan pertumbuhan anak, bukan hanya tinggi badan saat ini. Karena masalah pertumbuhan pada anak, khususnya yang mengalami sindrom Turner, masih sering terlambat terdeteksi.
“Kalau grafik pertumbuhan mulai menurun atau menjauhi kurva normal, itu sudah menjadi sinyal untuk segera diperiksa, meskipun anak belum terlihat pendek,” katanya, Minggu (26/4/2026).
Dijelaskan, sindrom Turner merupakan kondisi genetik yang umumnya dialami anak perempuan dan dapat memengaruhi pertumbuhan serta perkembangan pubertas. Sayangnya, banyak kasus baru terdeteksi saat anak sudah memasuki usia remaja, ketika intervensi tidak lagi optimal.
"Untuk itu, pemantauan rutin melalui kurva pertumbuhan di buku kesehatan anak menjadi langkah sederhana namun krusial. Jika terjadi perlambatan, orang tua disarankan segera berkonsultasi ke dokter," terangnya.
Menurutnya, salah satu penanganan utama pada sindrom Turner adalah terapi hormon pertumbuhan. Terapi ini bertujuan membantu anak mencapai tinggi badan yang lebih optimal.
"Hasil penelitian menunjukkan, anak yang menjalani terapi dalam jangka panjang dapat memiliki tinggi badan akhir 5-8 sentimeter lebih tinggi dibandingkan yang tidak mendapatkan terapi," ujarnya.
Namun, lanjut dr. Ghaisani, keberhasilan terapi dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya, usia saat terapi dimulai. Tinggi badan awal anak, faktor genetik orang tua, durasi terapi sebelum pubertas.
"Karena semakin cepat terapi dimulai, semakin besar peluang hasilnya optimal," tegasnya.
Dia mengungkapkan, selain pertumbuhan yang terhambat, anak dengan sindrom Turner juga berisiko mengalami pubertas terlambat. Kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan tulang, perkembangan organ reproduksi, serta kondisi psikologis anak, terutama saat memasuki masa remaja.
"Idealnya, deteksi dilakukan sebelum usia 13–14 tahun. Namun, banyak kasus baru teridentifikasi pada usia sekitar 15 tahun, ketika peluang intervensi optimal sudah berkurang. Kalau terdeteksi lebih awal, terapi hormon pertumbuhan bisa dimaksimalkan terlebih dahulu sebelum masuk ke tahap induksi pubertas,” paparnya.
Sementara itu, dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Fertilitas Endokrinologi Reproduksi, dr. Kanadi Sumapraja, menambahkan hormon estrogen memiliki peran penting dalam perkembangan perempuan. Estrogen tidak hanya memicu menstruasi, tetapi juga berperan dalam kesehatan tulang, jantung, hingga fungsi otak.
"Kekurangan hormon ini dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan jangka panjang, termasuk osteoporosis dan masalah kardiovaskular," ungkapnya.
Diakui, salah satu tantangan dalam penanganan sindrom Turner adalah kurangnya pemahaman orang tua terkait terapi hormon. Banyak yang mengira terapi hanya bertujuan memicu menstruasi, padahal manfaatnya jauh lebih luas.
"Terapi hormon sering kali perlu dilakukan secara berkelanjutan sesuai anjuran dokter untuk menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh. Jadi, terapi ini bukan sekadar memicu haid. Makanya, orang tua diimbau untuk rutin memantau pertumbuhan anak dan segera mencari bantuan medis jika menemukan tanda-tanda yang tidak biasa," pungkas dr. Kanadi.
Editor : Elva Setyaningrum
