JAKARTA, iNewsTangsel.id - Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap gejala serangan jantung masih menjadi tantangan utama dalam menekan angka kematian akibat penyakit kardiovaskular di Indonesia. Banyak kasus terlambat ditangani karena pasien tidak segera mencari pertolongan medis saat gejala awal muncul.
Padahal, serangan jantung merupakan kondisi darurat medis yang membutuhkan respons cepat. Kerusakan otot jantung dapat terjadi dalam waktu 20–30 menit, dan setiap keterlambatan penanganan akan meningkatkan risiko kematian secara signifikan.
Menanggapi hal ini, Siloam International Hospitals menekankan pentingnya sistem layanan yang mampu merespons pasien secara cepat dan terintegrasi sejak kedatangan di fasilitas kesehatan.
Chief Medical Officer Siloam, Dr. Grace Frelita, mengatakan kecepatan menjadi faktor penentu dalam penanganan serangan jantung. “Setiap menit sangat berharga. Semakin cepat aliran darah ke jantung dipulihkan, semakin besar peluang pasien untuk selamat dan pulih tanpa komplikasi serius,” ujarnya, Rabu (6/5/2026).
Prosedur Percutaneous Coronary Intervention (PCI) di cath lab sebagai tindakan utama untuk membuka sumbatan pembuluh darah jantung. Layanan ini didukung kesiapan tim medis 24 jam, pemeriksaan EKG dalam waktu singkat, serta sistem rujukan yang terintegrasi.
Melalui pendekatan ini, peluang keselamatan pasien sekaligus mendorong masyarakat untuk lebih waspada terhadap gejala serangan jantung dan segera mencari pertolongan medis.
Editor : Hasiholan Siahaan
Artikel Terkait
