Dokter Ortopedi: Penanganan Cepat dan Tepat Selamatkan Lansia dari Risiko Komplikasi Patah Tulang

Aries
Dokter ortopedi menekankan pentingnya intervensi medis dini di bawah 24 jam bagi lansia yang mengalami patah tulang. [Foto: ist]

JAKARTA, iNewsTangsel - Kasus cedera berat yang menimpa kelompok usia lanjut atau lansia kini menjadi perhatian serius di dunia kedokteran karena tingkat risiko fatalitasnya yang cukup tinggi. Keterlambatan dalam memberikan tindakan medis darurat disinyalir dapat memicu penurunan kondisi fisik secara drastis dalam waktu singkat.

Dokter spesialis ortopedi menyarankan agar pihak keluarga segera melarikan pasien ke unit gawat darurat guna mendapatkan evaluasi klinis secara komprehensif. Langkah taktis ini sangat krusial untuk mencegah terjadinya pembekuan darah atau infeksi paru-paru akibat tubuh yang terlalu lama berbaring tanpa mobilisasi.

"Intervensi dini adalah kuncinya, jika operasi ditunda, pasien mungkin tidak akan bisa berjalan lagi, dan itu dapat memicu berbagai komplikasi lainnya," ujar dokter spesialis ortopedi, Jeffrey Jaya Raj dari Sunway Medical Centre (SMC), Kuala Lumpur dalam keterangannya, Senin (25/5/2026). 

Ia menambahkan bahwa penundaan penanganan yang tidak tepat akan memperparah trauma psikologis serta fisik pada sistem muskuloskeletal pasien.
Sinergi penanganan lintas disiplin ilmu kedokteran baru-baru ini diterapkan dalam memulihkan seorang pasien wanita berusia lebih dari satu abad yang mengalami patah leher tulang paha. Kolaborasi antara tim ortopedi, geriatri, dan anestesi diperlukan untuk mengukur batas toleransi tubuh pasien terhadap efek obat bius.

Prosedur pembedahan canggih diputuskan berjalan menggunakan metode pembiusan regional guna meminimalkan tekanan kerja jantung serta paru-paru selama operasi berlangsung. Tindakan penggantian sebagian sendi pinggul tersebut berhasil diselesaikan dalam durasi singkat berkat dukungan sistem koordinasi yang responsif.

Layanan khusus patah tulang lansia ini terbukti mampu memotong birokrasi penanganan medis sehingga tindakan koreksi posisi tulang bisa dilakukan kurang dari satu hari. 

"Pada usia lanjut, cedera seperti ini sering kali menjadi awal dari penurunan kondisi fisik secara drastis," jelas Jeffrey saat memaparkan analisis klinisnya.

Pascaoperasi, program rehabilitasi medis intensif langsung diterapkan untuk merangsang kembali memori otot kaki dan melatih keseimbangan tubuh pasien. Hasilnya, pasien tertua di Asia Tenggara tersebut sudah mampu berdiri dan melangkah perlahan dalam waktu dua hari setelah keluar dari ruang bedah.

Dokter Jeffrey menegaskan bahwa keberhasilan pemulihan mobilitas ini tidak hanya bertumpu pada aspek kecanggihan teknologi ruang operasi semata. Kehadiran serta dukungan mental yang konsisten dari pihak keluarga terdekat dinilai memiliki andil yang sama besar dalam mempercepat proses penyembuhan pasien di rumah.

Editor : Aris

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network