‎Kemarau Panjang, Warga Kabupaten Tangerang Bergantung pada Bantuan Air Bersih

Elva
Sejumlah warga mengantre air bersih akibat kekeringan di Kabupaten Tangerang. (Foto: Istimewa)

TANGERANG, iNewsTangsel.id -Kemarau panjang yang dipicu fenomena El Nino "Godzilla" tak hanya mengeringkan sumur dan lahan pertanian, tapi juga mengubah kehidupan ribuan warga di Kabupaten Tangerang. Bagi sebagian masyarakat, air bersih kini menjadi kebutuhan yang harus diperjuangkan setiap hari.

‎Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik mengatakan, hingga awal Agustus 2026, krisis air bersih telah melanda 64 desa dan kelurahan di 13 kecamatan. Sedikitnya 1.565 kepala keluarga atau sekitar 6.260 jiwa terdampak dan membutuhkan pasokan air bersih.

‎"Dampak kekeringan mulai dirasakan sejak Mei 2026 dan diperkirakan masih akan berlangsung hingga Oktober mendatang. Akibat kemarau panjang terjadi kekeringan yang menyebabkan beberapa persoalan, mulai dari kekurangan air bersih, meningkatnya risiko kebakaran hingga potensi gagal panen di lahan pertanian," ujar Taufik, Selasa (4/8/2026).

‎Ia menjelaskan, di tengah kondisi tersebut, distribusi bantuan air bersih menjadi penopang utama kehidupan warga. Truk tangki datang secara berkala membawa pasokan air yang dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan memasak, mandi, mencuci, hingga keperluan ibadah.

‎"Adapun wilayah yang terdampak meliputi Kecamatan Legok, Tigaraksa, Jambe, Panongan, Rajeg, Kronjo, Curug, Kelapa Dua, Cikupa, Sukadiri, Balaraja, Mekar Baru, dan Pagedangan," terangnya.

‎Menurut Taufik, pihaknya terus menggandeng berbagai pihak, mulai dari PMI, Dinas Perumahan, Permukiman dan Pemakaman (Perkim), Perumdam Tirta Kerta Raharja, hingga sektor swasta agar kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi.

‎"Kini seluruh kebutuhan air bersih masyarakat yang terdampak dapat dipenuhi melalui distribusi bantuan," imbuhnya.

‎Ia mengungkapkan, selain memastikan pasokan air bersih, pemerintah daerah juga mengajak masyarakat menggunakan air secara bijak selama musim kemarau.

‎"Karena selain krisis air bersih, kemarau panjang juga meningkatkan risiko kebakaran serta mengancam produktivitas pertanian yang menjadi sumber penghidupan banyak warga," ujarnya.

‎Sementara itu, Yaya (44), warga Legok mengaku, ia bersama 4 anaknya harus  bisa menghemat air, jika air tangki belum datang. Air yang ada dipakai untuk memasak dan minum. Sementara mandi dan mencuci harus dikurangi.

‎"Biasanya tinggal nyalakan pompa, air langsung keluar. Sekarang sumur kami kering. Mudah-mudahan hujan segera turun supaya sumur kami kembali ada airnya. Kami sangat terbantu dengan bantuan air bersih dari pemerintah," kata Yaya.



Editor : Elva Setyaningrum

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network