JAKARTA, iNewsTangsel - Tuntutan publik terhadap industri ekstraktif kini tidak lagi hanya terbatas pada pemenuhan target produksi dan kepatuhan regulasi formal semata. Parameter keberhasilan sebuah investasi komersial di era modern diukur dari seberapa besar kontribusi nyata dalam mendongkrak taraf hidup warga lokal.
Dalam hal ini, sektor pertambangan dituntut mampu mengintegrasikan aspek perlindungan alam dengan penciptaan peluang usaha baru bagi penduduk di sekitar wilayah operasional. Pola pendekatan ini dinilai krusial untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi korporasi berjalan selaras dengan penguatan fondasi sosial kemasyarakatan.
Menurut Dirut PT ABM Investama Tbk (ABMM) Achmad Ananda Djajanegara, dalam kerangka keberlanjutan, program CSR adalah bagian penting dari framework ESG, terutama pada aspek sosial yang dijalankan untuk menopang keberlanjutan bisnis.
“Kami memandang program ini bagian framework ESG khususnya pada aspek sosial untuk mendukung keberlanjutan. ESG memiliki cakupan lebih luas, tapi lewat program yang terarah kami ingin memastikan pertumbuhan usaha juga diikuti penguatan masyarakat, peningkatan kesejahteraan, dan dampak nyata," ujar Andi, sapaan akrabnya, dalam keterangannya, Rabu (27/5/2026).
Kekuatan utama dari intervensi sosial ini terletak pada konsistensi tata kelola agar setiap program yang digulirkan bersifat akuntabel dan terukur. Langkah tersebut penting dilakukan agar kontribusi yang diberikan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan meninggalkan kapasitas keterampilan yang mandiri.
Editor : Aris
Artikel Terkait
