JAKARTA, iNewsTangsel.id - Gejolak harga minyak dunia diperkirakan masih akan membayangi ekonomi global, dengan dampak langsung ke negara pengimpor energi seperti Indonesia. Dalam forum St. Petersburg International Economic Forum 2026, para pelaku industri energi menilai volatilitas harga bukan lagi sekadar siklus pasar, melainkan dipicu kombinasi geopolitik, sanksi, dan ketidakpastian pasokan.
CEO Rosneft, Igor Sechin, menyoroti kawasan Selat Hormuz sebagai titik krusial yang berpotensi mengerek harga minyak. Ia memperkirakan, jika pembatasan konflik mereda pada akhir 2026, harga minyak bisa berada di kisaran US$95–96 per barel. Namun dalam skenario tekanan pasokan, harga dalam jangka pendek diprediksi bertahan di level US$80–85 per barel.
Pandangan lebih ekstrem datang dari mantan Direktur Eksekutif International Energy Agency, Nobuo Tanaka, yang memperingatkan potensi lonjakan hingga US$170 per barel jika krisis pasokan memburuk. “Situasi ini sangat serius,” ujarnya, Senin (8/6/2026) menegaskan peran besar Rusia dalam menjaga suplai global.
Bagi Indonesia, fluktuasi ini bukan sekadar isu global. Ketergantungan pada impor energi membuat perubahan harga minyak langsung menekan neraca perdagangan, inflasi, hingga beban subsidi. Data menunjukkan impor migas masih menyumbang defisit signifikan, sementara belanja subsidi dan kompensasi energi telah mencapai ratusan triliun rupiah pada 2026.
Di sisi lain, Jurabek Mirzamakhmudov melihat peluang harga kembali ke kisaran US$60 per barel, sementara pelaku pasar lain memperkirakan rentang US$78–90 per barel. Perbedaan proyeksi ini mencerminkan tingginya ketidakpastian pasar energi global.
Kondisi tersebut menempatkan Indonesia pada posisi rawan. Ketika harga melonjak, tekanan fiskal meningkat; sebaliknya saat harga turun, stabilitas pasokan belum tentu terjamin. Situasi ini menegaskan urgensi strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah pasar minyak yang kian sulit diprediksi.
Editor : Hasiholan Siahaan
Artikel Terkait
