JAKARTA, iNewsTangsel.id - Layanan kesehatan di Indonesia memasuki fase baru dengan hadirnya transplantasi ginjal berbantuan robotik yang untuk pertama kalinya berhasil dilakukan di Siloam Hospitals Asri. Inovasi ini menandai pergeseran pendekatan medis dari metode konvensional menuju teknologi presisi tinggi dalam penanganan penyakit kronis.
Prosedur tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan Asan Medical Center, menghadirkan standar praktik internasional sekaligus transfer keahlian dalam bidang transplantasi organ dan bedah robotik. Teknologi ini memungkinkan tindakan operasi dilakukan dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi serta risiko komplikasi yang lebih rendah.
Tim urologi Siloam Hospitals Asri yang dipimpin oleh Prof. DR. dr. Nur Rasyid, Sp.U(K), bersama dr. G. Reinaldi, Sp.U(K), Ph.D, dr. Kindy Aulia, serta Prof. dr. Agus Rizal Ardy Hariandy Hamid, Sp.U(K), FICRS, Ph.D, dan dr. Arry Rodjani, Sp.U(K). Tim multidisiplin ini bekerja dengan dukungan teknologi robotik yang memungkinkan kontrol gerakan instrumen bedah secara lebih presisi melalui sistem konsol.
Prof. Nur Rasyid menyebut bahwa pendekatan robotik memberikan sejumlah keunggulan klinis, mulai dari sayatan minimal hingga pemulihan pasien yang lebih cepat. “Teknologi ini memungkinkan kami bekerja dengan presisi tinggi, sehingga risiko perdarahan dapat ditekan dan hasil klinis lebih optimal,” ujarnya, Senin (29/6/2026).
Pasien penerima transplantasi, pria berusia 57 tahun dengan diagnosis penyakit ginjal stadium akhir akibat hipertensi, menunjukkan perkembangan positif pascaoperasi. Evaluasi medis mencatat peningkatan fungsi ginjal serta produksi urin yang sesuai target, menjadi indikator awal keberhasilan transplantasi.
Lebih dari sekadar pencapaian teknologi, prosedur ini mencerminkan arah baru sistem kesehatan yang menekankan integrasi inovasi, kolaborasi global, dan peningkatan kualitas layanan dalam negeri. “Ini bukan hanya tentang teknologi, tetapi bagaimana kami menghadirkan layanan yang lebih aman, presisi, dan dapat diakses masyarakat tanpa harus berobat ke luar negeri,” tambah Prof. Nur Rasyid.
Editor : Hasiholan Siahaan
Artikel Terkait
