JAKARTA, iNewsTangsel.id - Industri teknologi finansial (fintech) Indonesia memasuki fase pendewasaan setelah lebih dari satu dekade bertumbuh pesat. Apalagi, daya saing industri kini tidak lagi hanya ditentukan oleh kecepatan ekspansi, tapi bergeser pada penguatan fundamental bisnis, kepastian regulasi, kepercayaan digital, pengembangan talenta, serta dampak ekonomi yang berkelanjutan.
Temuan tersebut tertuang dalam Annual Members Survey (AMS) 2025–2026 yang melibatkan 141 perusahaan anggota Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) dari berbagai subsektor, mulai dari sistem pembayaran, pembiayaan digital, aset digital, hingga layanan teknologi finansial.
Ketua Umum AFTECH, Pandu Sjahrir mengatakan, industri fintech Indonesia kini memasuki tahap baru yang menuntut perusahaan memiliki model bisnis yang lebih sehat dan berkelanjutan.
"Keberhasilan industri ke depan tidak lagi hanya diukur dari pertumbuhan pengguna atau ekspansi bisnis, tapi juga dari kekuatan fundamental perusahaan, konsistensi implementasi regulasi, kemampuan membangun kepercayaan digital, serta kontribusinya terhadap masyarakat dan perekonomian nasional," ujarnya, Jumat (10/7/2026).
Ia menjelaskan, hasil survei menunjukkan terdapat lima transisi utama yang akan membentuk arah perkembangan industri fintech Indonesia. Transisi pertama adalah pergeseran dari orientasi pertumbuhan menuju penguatan fundamental bisnis.
"Sebanyak 77 persen responden menjadikan kemitraan strategis sebagai strategi utama untuk berkembang, sementara 97 persen menyatakan tidak mengubah model bisnisnya dalam satu tahun terakhir. Hal ini menunjukkan perusahaan lebih fokus meningkatkan efisiensi dan profitabilitas dibanding melakukan ekspansi agresif," ucapnya.
Kedua, lanjut Pandu, kebutuhan industri bergeser dari penyusunan regulasi menuju kepastian implementasi. Sebanyak 84 persen responden menilai stabilitas dan kepastian regulasi menjadi dukungan pemerintah yang paling dibutuhkan agar pelaku usaha dapat menjalankan bisnis dengan lebih pasti.
"Sedangkan, transisi ketiga adalah perubahan fokus dari pembangunan infrastruktur digital menuju penguatan kepercayaan digital. Sebanyak 53 persen responden menempatkan penguatan identitas digital sebagai prioritas utama untuk meningkatkan keamanan transaksi dan kepercayaan masyarakat terhadap layanan keuangan digital," terangnya.
Menurutnya, transisi keempat, industri menghadapi tantangan dalam pengembangan kapabilitas sumber daya manusia. Sebanyak 48 persen responden menyebut tenaga kerja di bidang data, kecerdasan buatan (AI), dan analitik menjadi talenta yang paling sulit direkrut.
"Sementara itu, transisi kelima menitikberatkan pada penciptaan dampak yang lebih berkelanjutan. Setelah akses layanan keuangan semakin luas, tantangan berikutnya adalah meningkatkan literasi masyarakat agar mampu memanfaatkan layanan keuangan digital secara optimal. Sebanyak 71 persen responden menilai rendahnya literasi keuangan masih menjadi hambatan utama dalam memperluas inklusi keuangan," paparnya.
Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal AFTECH, Firlie Ganinduto menambahkan, dari sisi kinerja industri, survei juga menunjukkan kondisi yang semakin sehat. Sebanyak 43 persen perusahaan responden telah membukukan laba dan 81 persen telah menjalin kemitraan aktif dengan berbagai pelaku ekosistem.
"Dukungan terhadap perkembangan regulasi juga relatif tinggi. Sebanyak 86 persen responden menilai kerangka regulasi yang ada telah mendukung inovasi. Sementara 81 persen menyatakan regulasi turut mendorong pertumbuhan industri fintech," katanya.
Ia menerangkan, adopsi teknologi kecerdasan buatan juga semakin meluas. Sebanyak 83 persen perusahaan telah menggunakan atau menguji coba AI untuk berbagai kebutuhan, seperti analisis data, layanan pelanggan, otomatisasi proses, deteksi fraud, hingga penilaian kredit dan manajemen risiko.
"Dalam aspek inklusi keuangan, separuh responden menyatakan produk dan layanannya ditujukan bagi masyarakat yang belum terjangkau layanan perbankan maupun kelompok underserved. Selain itu, 81 persen perusahaan menjalankan program literasi keuangan dan 56 persen telah memiliki atau mengembangkan program lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG)," paparnya.
Temuan tersebut menunjukkan industri fintech Indonesia mulai bertransformasi menuju pertumbuhan yang lebih berkualitas. Ke depan, penguatan kolaborasi antara pelaku industri, regulator, pemerintah, lembaga keuangan, penyedia teknologi, dan institusi pendidikan dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga daya saing sekaligus memperluas kontribusi fintech terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Editor : Elva Setyaningrum
Artikel Terkait
