CIPUTAT, iNewsTangsel - Fenomena tawuran remaja menyisakan masalah serius di tengah masyarakat hingga mendapatkan perhatian serius serta penanganan khusus dari pihak kepolisian. Polsek Ciputat Timur menerapkan strategi integratif guna menjaga kondusifitas wilayah yang dihuni oleh lebih dari 525 ribu jiwa.
Menurut Kapolsek Ciputat Timur, Komisaris Polisi (Kompol) Bambang Askar Sodiq, S.H., M.H. langkah awal difokuskan pada penguatan sinergi lintas instansi serta optimalisasi sosialisasi berbasis komunitas warga lokal. "Kami tidak bekerja sendiri, melainkan berkolaborasi dengan Koramil, RT/RW, Pokdarkamtibmas, hingga Saka Bhayangkara," ujar Bambang, saat dihubungi iNews Tangsel, Sabtu (19/9/2026).
Pendekatan edukatif turut disisipkan melalui kegiatan keagamaan dan pengawasan ketat jam malam terhadap para remaja. Orang tua diminta aktif memeriksa keberadaan putra-putrinya setiap pukul 10 malam demi mencegah potensi tawuran.
Selain itu, pihak kepolisian juga mendirikan pos pantau di titik-titik rawan tawuran guna mengantisipasi timbulnya bentrokan antar kelompok. Lokasi di wilayah Ciputat Timur seperti Maruga Ciater, Gang Swadaya, serta Nurul Huda menjadi fokus pengawasan intensif petugas di lapangan.
Sektor pendidikan menjadi sasaran utama polisi dalam penanaman nilai kedisiplinan serta literasi hukum bagi para siswa. Melalui program Cegah Tawuran Antar Pelajar (CETAR), kepolisian hadir secara masif sebagai pembina upacara tiap hari Senin di sekolah-sekolah.
Petugas kepolisian juga mengambil peran sebagai "Bapak Asuh" bagi siswa di sekolah bernuansa zona merah. "Kami merasa punya kewajiban moral untuk menyelamatkan generasi muda sebelum mereka terjerumus tindakan kriminal," ungkap Kapolsek.
Pendekatan humanis diterapkan melalui interaksi santai, permainan edukatif, hingga pelibatan akademisi serta praktisi dongeng. Polisi memposisikan diri sebagai mentor bagi remaja yang membutuhkan perhatian ekstra. Anak-anak yang terjaring tidak dijatuhi hukuman fisik, melainkan diarahkan menuju wadah pembinaan Saka Bhayangkara.
"Ibarat piring kotor, mereka tidak kita buang melainkan dibersihkan dan dibina agar kembali bermanfaat," ujar Bambang.
Setiap hari Sabtu pagi, para remaja dibekali pelatihan kedisiplinan, spiritualitas, adab, hingga keterampilan public speaking. Pembinaan komprehensif ini dirancang khusus guna membangun kepercayaan diri serta karakter positif bagi masa depan mereka.
Editor : Aris
Artikel Terkait
