JAKARTA, iNewsTangsel.id -Mewujudkan masyarakat yang inklusif bagi individu neurodivergen membutuhkan perubahan lingkungan secara menyeluruh, bukan hanya dukungan dari keluarga. Sekolah, dunia kerja, ruang publik, komunitas, hingga pemerintah juga memiliki peran dalam menciptakan ruang yang memungkinkan individu dengan keragaman neurologis berkembang dan berpartisipasi secara mandiri.
Ketua Yayasan SPEKIX Asa Indonesia Zarrabida Ibnusirad mengatakan, pendekatan terhadap individu berkebutuhan khusus perlu diarahkan pada pengenalan potensi, bukan semata-mata melihat keterbatasan.
“Setiap individu memiliki potensi yang unik. Tugas kita bukan melihat apa yang tidak bisa mereka lakukan, tetapi bersama-sama menciptakan lingkungan yang memungkinkan mereka berkembang dan berdaya,” ujar Zarrabida, Jumat (18/9/2026), saat memberi keterangan SPEKIX 2026 yang akan digelar pada 10–11 Oktober 2026 di JICC Senayan, Jakarta.
Menurut dia, lingkungan yang mendukung menjadi bagian penting agar individu neurodivergen dapat menjalani berbagai tahapan kehidupan secara lebih optimal. Dukungan tersebut tidak berhenti pada intervensi atau pendampingan di usia anak, tapi perlu berlanjut hingga masa remaja, pendidikan, dan memasuki dunia kerja.
"Karena itu, isu inklusi juga berkaitan dengan kesiapan institusi pendidikan dan lingkungan kerja dalam memahami kebutuhan individu neurodivergen. Sekolah misalnya, tidak hanya dituntut menerima keberagaman peserta didik, tetapi juga memiliki pemahaman mengenai cara mengenali serta mendampingi kebutuhan mereka di kelas," ujarnya.
Ia menjelaskan, ajang tersebut akan membahas sejumlah persoalan yang berkaitan dengan perjalanan hidup individu berkebutuhan khusus, mulai dari deteksi dini dan terapi anak, tantangan makan dan nutrisi, toilet training, hingga persoalan yang muncul ketika memasuki masa transisi menuju dunia kerja.
"Persoalan keluarga juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari ekosistem inklusi. Beban pengasuhan, termasuk parental burnout, menjadi salah satu topik yang dibahas untuk melihat kebutuhan dukungan tidak hanya bagi individu berkebutuhan khusus, tetapi juga keluarga yang mendampingi mereka," ungkapnya.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua Yayasan SPEKIX Asa Indonesia Zavnura Pingkan menambahkan, pemahaman mengenai inklusi juga perlu diperluas kepada masyarakat yang selama ini tidak berhadapan langsung dengan isu kebutuhan khusus.
“Kami ingin semua kalangan dari kakek-nenek, sepupu, om-tante dan siapapun yang selama ini merasa bukan acara mereka, ikut datang dan melihat sendiri secara langsung karena SPEKIX bukan hanya untuk orangtua dengan IBK,” katanya.
Menurut dia, keterlibatan masyarakat luas diperlukan karena terciptanya lingkungan inklusif tidak hanya bergantung pada keluarga. Penerimaan di lingkungan sosial, akses pendidikan, kesempatan kerja, serta ruang publik yang dapat digunakan secara aman dan nyaman turut menentukan kualitas partisipasi individu neurodivergen dalam kehidupan sehari-hari.
"Ajang ini juga menyediakan program yang berkaitan dengan konsultasi profesional dan karier inklusi. Kami berharap, penguatan inklusi bisa berlanjut di luar kegiatan tersebut melalui perubahan pemahaman dan praktik di berbagai lingkungan," tutupnya.
Editor : Elva Setyaningrum
Artikel Terkait
