get app
inews
Aa Text
Read Next : Truk Diduga Asal Tangsel Buang Sampah di TPA Ilegal Rumpin, Picu Konflik Warga Bogor

Masalah Sampah di Tangsel, BRIN Tawarkan Skema Berjenjang dari RT hingga Kecamatan

Selasa, 03 Februari 2026 | 20:12 WIB
header img
Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Prof. Dr. Cuk Supriyadi Ali Nandar, saat memberikan keterangan terkait inovasi pengolahan sampah di Tangsel. Foto Elva

TANGERANG SELATAN, iNewsTangsel.id - Persoalan sampah masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten. Timbunan sampah yang kerap ditemukan di sejumlah sudut kota tak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berdampak pada kesehatan dan kualitas lingkungan warga. Sehingga membutuhkan penanganan terpadu dari hulu hingga hilir.

Di tengah persoalan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang telah melakukan berbagai riset dan uji coba teknologi pengelolaan sampah, mulai menjajaki kerja sama dengan Pemerintah Kota Tangsel untuk menghadirkan inovasi pengelolaan sampah secara berjenjang, mulai dari tingkat rumah tangga hingga kecamatan.

Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Prof. Cuk Supriyadi Ali Nandar, mengatakan akar persoalan sampah selama ini berada di hulu. Karena pemilahan sampah sejak dari sumbernya belum dilakukan secara optimal. Sampah rumah tangga masih bercampur, sehingga sulit diolah. 

“Untuk itu, kami menawarkan skema pengelolaan sampah yang dimulai dari pemilahan di tingkat RT. Padahal kalau dipilah, sampah itu punya nilai ekonomi,” kata Prof. Cuk, saat konferensi internasional ICSEEA 2026 di Tangsel, Selasa (3/2/2026). 

Dia menjelaskan, dalam konsep yang ditawarkan, pemilahan sampah dilakukan sejak dari rumah tangga. Sampah anorganik seperti plastik dan logam dapat dijual ke pengepul. Sedangkan, sampah organik diolah menjadi biogas yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif.

“Kami juga mendorong penguatan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) sebelum sampah masuk ke tingkat kecamatan. Dengan skema ini, volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) diharapkan bisa ditekan secara signifikan,” terangnya. 

Selain di tingkat permukiman, lanjut Prof. Cuk, pihaknya juga mengusulkan pilot project pengelolaan sampah di pasar tradisional. Salah satu lokasi yang diusulkan adalah Pasar Jengkol, yang akan menjadi lokasi uji coba pengolahan sampah organik menjadi biogas.

“Di pasar, sampahnya relatif homogen. Itu bisa kita olah untuk biogas sehingga tidak dibuang percuma,” ujarnya.

Menurut Prof. Cuk, skema berjenjang tersebut dilengkapi dengan pengelolaan di tingkat kecamatan melalui fasilitas insinerator atau alat pembakar sampah. Kecamatan Setu diusulkan sebagai lokasi piloting karena keberadaan kawasan Puspiptek BRIN di wilayah tersebut.

“Jika dari RT dan pasar sudah tertangani, sampah yang masuk ke kecamatan tinggal residu. Itu yang bisa diolah di insinerator,” ujar Prof. Cuk.

Dia berharap, pendekatan ini dapat mengurangi secara signifikan volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Meski uji coba dilakukan di satu kecamatan, skema tersebut berpotensi direplikasi di kecamatan lain di Tangsel yang berjumlah tujuh wilayah.

“Di Tangsel ada tujuh kecamatan. Kalau pilot ini berhasil, sangat mungkin dikembangkan ke kecamatan lain,” pungkasnya.

Editor : Elva Setyaningrum

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut