AI Masuk Ranah Relasi Sosial Lewat Konsep Party Kurasi Data Berbasis Astrologi
JAKARTA, iNewsTangsel.id - Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) kini meluas ke ranah relasi sosial. Komunitas teknologi AICO menguji konsep pertemuan sosial berbasis kurasi data pada acara Cosmic Affair, di Jakarta. Sekitar 120 peserta dari beragam latar belakang, mulai dari profesional, pelaku industri kreatif, hingga eksekutif mengikuti sesi pencocokan (matchmaking) yang memadukan algoritma AI dengan pendekatan astrologi.
Co-Founder AICO, Reynaldi Francois menjelaskan, dalam acara tersebut, peserta diminta memasukkan data kelahiran melalui ponsel masing-masing. Sistem kemudian menampilkan profil singkat, zodiak, analisis kepribadian berdasarkan astrologi Barat, serta pembacaan BaZi (astrologi Tiongkok).
“Algoritma AI yang dikembangkan internal ini selanjutnya merekomendasikan pasangan interaksi yang dinilai memiliki tingkat kecocokan tertentu,” katanya, Rabu (18/2/2026).
Dia menjelaskan, format interaksi dibagi ke dalam beberapa kategori, mulai dari relasi pertemanan (The Squad), kolaborasi kreatif dan bisnis (The Hustle), konsep “opposite attract” (The Polarity), hingga relasi romantis (The Spark).
“Saat sesi dimulai, peserta menerima notifikasi berisi identitas pasangan serta alasan kecocokan berdasarkan analisis sistem,” terangnya.
Menurutnya, konsep ini dirancang sebagai ruang eksperimen sosial terkurasi yang memanfaatkan AI untuk membantu orang terhubung secara lebih terarah.
“Teknologi dapat berperan sebagai fasilitator koneksi sosial di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat akan relasi yang relevan,” ungkapnya.
Sementara itu, Co-Founder AICO lainnya, Tommy Teja, menambahkan, kegiatan ini merupakan uji coba awal untuk melihat respons publik terhadap konsep acara berbasis AI dan astrologi.
“Data data peserta hanya digunakan selama kegiatan berlangsung dan tidak disimpan setelah acara selesai. Ini sebagai bagian dari komitmen kami terhadap privasi pengguna,” tegasnya.
Dia memaparkan, eksperimen ini mencerminkan tren pemanfaatan AI di luar fungsi produktivitas atau industri, menuju ranah sosial dan gaya hidup.
“Integrasi teknologi dengan sistem kepercayaan seperti astrologi juga menunjukkan bagaimana AI mulai dipadukan dengan preferensi personal dan budaya populer,” imbuh dia.
Pada kesempatan yang sama, salah satu peserta, Mela mengaku, mendapatkan match yang sama hingga tiga sesi berturut-turut dengan tingkat kecocokan 100 persen, yang akhirnya berlanjut menjadi koneksi pertemanan baru.
“Shock banget, tiga sesi berturut-turut aku match sama orang yang sama dengan tingkat kecocokan 100 persen. Dari situ kita langsung lanjut ngobrol dan ternyata obrolannya nyambung,” ucapnya.
Editor : Elva Setyaningrum