Alarm Bahaya Siber! Indonesia Digempur 5,5 Miliar Serangan, Organisasi Diminta Siaga Penuh
JAKARTA, iNewsTangsel - Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat sebanyak 5,5 miliar serangan siber terjadi di Indonesia sepanjang tahun 2025. Angka tersebut diperkirakan masih akan meningkat pada 2026 seiring berkembangnya metode serangan dan semakin kompleksnya aktivitas pelaku kejahatan siber.
Lonjakan ancaman digital tersebut mendorong berbagai pihak untuk memperkuat kesiapan menghadapi potensi krisis siber. Salah satunya dilakukan Ensign InfoSecurity Indonesia yang meluncurkan program pelatihan simulasi krisis siber bagi para pemimpin teknologi dan pengambil keputusan di berbagai sektor industri.
Program ini dirancang untuk membantu organisasi menghadapi kondisi darurat akibat serangan siber secara lebih terstruktur dan efektif. Melalui pendekatan simulasi, peserta diajak menghadapi situasi yang menyerupai kondisi nyata ketika insiden siber terjadi.
Adithya Nugraputra, Head of Consulting PT Ensign InfoSecurity Indonesia, menegaskan bahwa kesiapan menghadapi ancaman digital tidak cukup hanya mengandalkan prosedur tertulis. Menurutnya, latihan yang realistis sangat penting agar para pemimpin mampu mengambil keputusan cepat dan tepat saat krisis berlangsung.
“Momen paling berbahaya dalam sebuah krisis siber jarang terjadi pada saat serangan itu sendiri. Momen tersebut adalah ketika para pemimpin harus mengambil keputusan berdampak besar tanpa pernah berlatih menghadapinya,” ujar Adithya di Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Dalam pelaksanaannya, Ensign menggandeng iCIO Community untuk menjangkau para Chief Information Officer (CIO) serta pemimpin teknologi dari berbagai industri. Kolaborasi ini diharapkan mampu memperluas pemahaman dan kesiapan para pelaku industri dalam menghadapi ancaman siber yang terus berkembang.
Peserta pelatihan akan menghadapi berbagai skenario krisis, mulai dari deteksi awal gangguan, penanganan insiden, proses pemulihan sistem, hingga strategi komunikasi kepada pemangku kepentingan. Selain aspek teknis, mereka juga dituntut mempertimbangkan dampak terhadap operasional bisnis, kepatuhan regulasi, serta hubungan dengan pelanggan.
Peluncuran program tersebut dilakukan di tengah meningkatnya intensitas ancaman siber di kawasan Asia Pasifik. Berdasarkan laporan Ensign Cyber Threat Landscape 2025, ekosistem kejahatan siber bawah tanah semakin berkembang dengan keterlibatan kelompok ransomware, initial access brokers, hingga kelompok hacktivist yang beroperasi secara lebih terorganisasi.
Adithya menilai perkembangan tersebut membuat serangan siber menjadi lebih terarah, kompleks, dan berpotensi menimbulkan kerugian besar bagi organisasi maupun infrastruktur digital. Karena itu, kesiapan sumber daya manusia dan kemampuan pengambilan keputusan saat krisis menjadi faktor yang tidak kalah penting dibandingkan teknologi keamanan yang digunakan.
Program simulasi ini merupakan bagian dari upaya memperkuat ketahanan siber nasional. Sementara itu, iCIO Community berharap kolaborasi tersebut dapat memperluas edukasi, meningkatkan pertukaran pengetahuan antarindustri, serta membantu para pemimpin teknologi membangun kesiapan yang lebih praktis dalam menghadapi ancaman siber di masa depan.
Editor : Aris