Tekanan Kerja dan Kurang Tidur Picu Gangguan Kesehatan Mental Generasi Muda
JAKARTA, iNewsTangsel.id - Di balik produktivitas tinggi generasi muda di kota besar, tersembunyi ancaman kesehatan yang kian meningkat. Pola hidup serba cepat, kurang tidur, stres kerja, hingga minim aktivitas fisik kini menjadi pemicu munculnya berbagai penyakit tidak menular bahkan di usia 30-an.
Fenomena ini menunjukkan pergeseran tren kesehatan, di mana penyakit seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, hingga gangguan mental tak lagi identik dengan usia lanjut. Tanpa disadari, banyak pekerja urban mengalami kondisi tersebut secara perlahan karena gejalanya sering tidak terasa sejak awal.
Dokter spesialis kedokteran okupasi, dr. M. Arief Gunawan, mengungkapkan bahwa tekanan kerja dan gaya hidup modern menjadi kombinasi utama yang mempercepat munculnya penyakit. Bahkan, stres kronis dan burnout kini semakin sering ditemukan pada kelompok usia produktif.
“Banyak kasus baru terdeteksi ketika sudah memasuki tahap serius. Padahal, sebagian besar penyakit ini bisa dicegah jika dilakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin melalui medical check up,” jelasnya di Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Pendekatan preventif melalui Medical Check Up (MCU) dinilai menjadi solusi efektif untuk mengidentifikasi risiko sejak dini. Selain membantu pekerja memahami kondisi tubuhnya, langkah ini juga dinilai mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya pengobatan jangka panjang.
Perbandingan biaya menjadi salah satu alasan kuat pentingnya deteksi dini. MCU yang relatif terjangkau dinilai jauh lebih efisien dibandingkan biaya penanganan penyakit berat seperti serangan jantung yang bisa mencapai ratusan juta rupiah.
Lebih jauh, dr. Arief menyoroti bahwa setiap sektor pekerjaan memiliki risiko kesehatan berbeda, mulai dari paparan zat kimia di industri hingga gaya hidup sedentari pada pekerja kantoran. Karena itu, program kesehatan perlu disesuaikan dengan hasil pemeriksaan masing-masing individu.
Selain faktor fisik, aspek kesehatan mental juga menjadi perhatian. Tingginya tingkat konsumsi kopi dan kurangnya waktu istirahat menjadi indikator meningkatnya stres di kalangan pekerja. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat berkembang menjadi burnout yang berdampak pada kinerja dan kualitas hidup.
Direktur Klinik Pertamina IHC, Devi Desianti Pritasari, menegaskan bahwa kesadaran terhadap kesehatan preventif masih perlu ditingkatkan. Menurutnya, banyak penyakit berkembang tanpa gejala jelas sehingga sering terlambat ditangani.
“Kami mendorong masyarakat untuk tidak menunggu sakit. Deteksi dini melalui MCU membantu mengetahui kondisi kesehatan sekaligus mencegah risiko yang lebih besar di masa depan,” ujarnya.
Melalui edukasi dan layanan kesehatan terintegrasi, upaya pencegahan diharapkan dapat menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda. Di tengah tekanan kehidupan urban, menjaga kesehatan fisik dan mental kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Editor : Hasiholan Siahaan