ISPA di Tangsel Melonjak, Angkanya Nyaris Tembus 125 Ribu Kasus
TANGERANG SELATAN, iNewsTangsel — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang Selatan meluruskan informasi mengenai angka 124.688 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang tercatat dalam Bulletin Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) hingga minggu epidemiologi ke-30 2026. Angka tersebut merupakan akumulasi sejak minggu pertama, bukan jumlah kasus yang terjadi hanya dalam satu pekan.
Kepala Dinkes Tangsel dr. Allin Hendalin Mahdaniar menegaskan masyarakat perlu memahami perbedaan antara data kumulatif dan jumlah kasus pada periode tertentu. “Angka 124.688 itu merupakan jumlah kumulatif kasus ISPA dari minggu epidemiologi pertama sampai minggu ke-30, bukan jumlah kasus yang terjadi dalam satu minggu,” kata Allin, Jumat (14/8/2026).
Khusus pada minggu epidemiologi ke-30, Dinkes Tangsel mencatat 4.591 kasus ISPA, meningkat dibandingkan 3.832 kasus pada minggu sebelumnya. Kenaikan tersebut mencapai sekitar 19,8 persen dalam kurun satu minggu.
“Kalau yang dilihat khusus pada minggu epidemiologi ke-30, tercatat 4.591 kasus. Angka ini meningkat dari 3.832 kasus pada minggu sebelumnya atau sekitar 19,8 persen,” ujarnya.
Allin menjelaskan, minggu epidemiologi digunakan dalam sistem surveilans kesehatan untuk memastikan pencatatan dan pemantauan penyakit dilakukan secara konsisten.
Menurut Dinkes Tangsel, SKDR berfungsi memantau perkembangan penyakit setiap pekan sekaligus membantu mendeteksi adanya peningkatan kasus yang berpotensi menjadi kejadian luar biasa. Data tersebut selanjutnya dianalisis sebagai dasar bagi pemerintah dalam menentukan langkah kewaspadaan dan respons kesehatan masyarakat.
Allin menjelaskan ISPA merupakan infeksi yang menyerang saluran pernapasan dan dapat disebabkan berbagai virus maupun bakteri, seperti influenza, rhinovirus, RSV, adenovirus, parainfluenza, serta coronavirus. “ISPA merupakan infeksi yang menyerang saluran pernapasan dan dapat disebabkan oleh berbagai virus maupun bakteri,” kata Allin, seraya menyebut bakteri seperti Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae juga dapat menjadi penyebab.
Risiko ISPA dapat meningkat akibat paparan asap rokok, debu, polusi udara, ventilasi yang kurang baik, serta kondisi lingkungan yang padat. Gejala yang umum muncul antara lain batuk, pilek, sakit tenggorokan, demam, sakit kepala, kelelahan, dan tubuh terasa lemas. Untuk menekan penularan, Dinkes Tangsel terus memperkuat edukasi masyarakat melalui puskesmas, program Ngider Sehat, dan media sosial. “Masyarakat kami imbau untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan dengan sabun, menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin, serta menggunakan masker ketika sedang sakit,” ujar Allin.
Masyarakat yang mengalami gejala ISPA juga dianjurkan beristirahat dan membatasi aktivitas di luar rumah agar risiko penularan dapat ditekan. Dinkes mengingatkan bayi, balita, lansia, serta masyarakat dengan penyakit penyerta membutuhkan perhatian lebih karena berisiko mengalami komplikasi, termasuk pneumonia.
Dinkes Tangsel meminta warga segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala berat seperti sesak napas, demam tinggi atau berkepanjangan, lemas berat, maupun kondisi yang semakin memburuk. Pemantauan melalui SKDR akan terus dilakukan secara berkala sebagai bagian dari upaya deteksi dini, pencegahan, dan respons terhadap perkembangan kasus penyakit di Tangerang Selatan.
Editor : Aris