Keterlambatan Rujukan Masih Jadi Hambatan Penanganan Stroke di Indonesia
JAKARTA, iNewsTangsel.id - Akses masyarakat terhadap layanan penanganan stroke yang cepat dan memadai masih menjadi tantangan di Indonesia. Perbedaan ketersediaan fasilitas kesehatan dan tenaga medis antara wilayah Indonesia Barat dan Indonesia Timur membuat sebagian pasien harus menempuh proses rujukan yang panjang sebelum mendapatkan penanganan yang sesuai.
Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam laporan Strengthening Stroke System Readiness Across ASEAN yang membahas kesiapan layanan stroke di kawasan Asia Tenggara. Laporan tersebut diluncurkan Siemens Healthineers dalam ajang Hospital Management Asia 2026 di Bangkok, Thailand.
Salah satu pakar kesehatan yang hadir, Direktur Medik Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito, Yogyakarta, dr. Affan Priyambodo menjelaskan, kendala utama dalam penanganan stroke di Indonesia lebih banyak berkaitan dengan sistem layanan medis ketimbang aspek klinis.
"Banyak waktu yang terbuang dalam proses rujukan antar-rumah sakit dan pengurusan asuransi sebelum pasien mendapatkan penanganan medis," katanya dalam keterangan, Kamis (3/9/2026).
Menurutnya, stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan disabilitas di kawasan Asia Tenggara. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kawasan Asia Tenggara menyumbang lebih dari 40% kasus kematian akibat stroke di dunia dan menanggung hampir setengah dari total beban stroke di negara-negara berkembang
"Di Indonesia, stroke merupakan penyebab kematian utama. Beban penyakit ini semakin besar seiring bertambahnya penduduk lanjut usia. Sementara akses terhadap layanan spesialis masih belum merata antara Indonesia Barat dan Indonesia Timur," ujarnya.
Dia memaparkan, Indonesia sebenarnya telah memperluas kapasitas layanan stroke melalui Program Pengampuan Stroke. Hingga April 2026, sebanyak 231 kabupaten dan kota disebut telah memiliki kemampuan memberikan terapi pelarut bekuan darah atau trombolisis.
"Sementara itu, 81 kabupaten dan kota telah memiliki kemampuan penanganan yang lebih lanjut, termasuk tindakan pengangkatan bekuan darah atau trombektomi serta penanganan aneurisma otak," imbuhnya.
Ia melanjutkan, pemerintah juga menargetkan layanan trombolisis dapat tersedia secara nasional pada 2027. Namun, distribusi fasilitas dengan kemampuan trombektomi masih belum merata.
"Sebagian besar daerah yang memiliki kemampuan tersebut berada di Indonesia bagian barat, terutama Pulau Jawa. Kondisi ini menyebabkan pasien stroke berat di sejumlah wilayah masih harus menjalani proses rujukan ke rumah sakit lain untuk mendapatkan tindakan yang lebih lanjut," ucapnya.
Proses pemindahan pasien tersebut, menurutnya, dapat menambah waktu penanganan. Padahal stroke membutuhkan tindakan medis yang cepat. Keterlambatan juga dapat terjadi sejak awal ketika masyarakat belum mampu mengenali gejala stroke secara dini.
"Belum meratanya sistem layanan medis darurat dan mekanisme triase terpadu turut menjadi tantangan. Pasien dapat tiba di fasilitas kesehatan tanpa alur penanganan yang jelas. Sementara prosedur layanan stroke di setiap rumah sakit masih berbeda-beda," terangnya.
Untuk itu, para pakar mendorong penguatan sistem rujukan agar pasien tidak hanya diarahkan berdasarkan rumah sakit yang paling dekat, tetapi berdasarkan kemampuan fasilitas kesehatan dalam menangani jenis stroke yang dialami pasien.
"Sistem rujukan berbasis kemampuan dapat mengurangi proses pemindahan pasien berulang kali. Pasien dengan kondisi tertentu dapat langsung diarahkan ke rumah sakit yang memiliki fasilitas dan tenaga medis yang sesuai. Model layanan terpusat atau hub-and-spoke juga dinilai dapat menjadi salah satu pendekatan untuk memperkuat jaringan layanan stroke," katanya.
Sementara itu, Managing Director, ASEAN, dan Head of Enterprise Services, Asia Pasifik & Jepang, Siemens Healthineers, Fabrice Leguet mengungkapkan, setiap sistem layanan kesehatan di Asia Tenggara berada pada tahap yang berbeda-beda dalam pengembangan layanan stroke.
"Namun, banyak tantangan yang dihadapi sebenarnya sama," tegas Fabrice.
Pada kesempatan yang sama, Presiden Direktur Siemens Healthineers di Indonesia, Alfred Fahringer menambahkan, di Indonesia, tantangannya adalah memastikan jenis stroke yang dialami pasien dapat diketahui secara tepat dan cepat.
"Hasil penanganan sangat bergantung pada seberapa baik seluruh sistem layanan stroke bekerja secara terpadu, mulai dari mengenali gejala dan mengaktifkan layanan medis darurat hingga diagnosis, penanganan, dan rehabilitasi yang cepat," ungkapnya.
Editor : Elva Setyaningrum