Mahasiswa Baru Belajar Bisnis Lewat Praktik Langsung
JAKARTA, iNewsTangsel.id - Masa orientasi mahasiswa baru tidak selalu sebatas pengenalan lingkungan kampus. Sebanyak 206 mahasiswa baru Universitas Ciputra Jakarta justru mendapatkan pengalaman belajar langsung melalui kegiatan Selling Day dalam rangkaian O-Week 2026, selama 2 hari di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, Blok M, Jakarta Selatan.
"Dalam kegiatan tersebut mahasiswa baru diajak langsung mempraktikkan proses membangun bisnis, mulai dari menyusun ide, melakukan riset pasar, mengembangkan produk, hingga menjualnya langsung kepada konsumen. Ini merupakan pembelajaran entrepreneurship yang diterapkan sejak awal," kata Vice Campus Director for Operational Affairs Universitas Ciputra Jakarta, Winarto Poernomo, Minggu (6/9/2026).
Menurutnya, pembelajaran di perguruan tinggi tidak hanya berlangsung di dalam kelas. Mahasiswa juga perlu mendapatkan pengalaman langsung agar memahami persoalan nyata yang akan dihadapi di dunia kerja dan usaha. Pendekatan tersebut diterapkan kepada mahasiswa baru melalui kegiatan orientasi berbasis praktik.
"Mahasiswa perlu merasakan bagaimana menawarkan produk, membuat perencanaan, menghadapi barang yang tidak laku, hingga persoalan stok. Hal-hal seperti itu tidak sepenuhnya bisa didapatkan dari buku atau mata kuliah,” ujar Winarto.
Ia menjelaskan dalam kegiatan tersebut, mahasiswa dibagi dalam sejumlah kelompok dan diberikan modal sebesar Rp1 juta untuk mengembangkan ide usaha. Mahasiswa baru juga didampingi kakak tingkat sebagai mentor selama menjalankan kegiatan.
"Sebanyak 20 kelompok atau tenant berpartisipasi dengan mengembangkan beragam konsep usaha, mulai dari makanan dan minuman, produk kreatif, gaya hidup, hobi, hingga produk kesehatan dan pembelajaran," terangnya.
Untuk itu, lanjutnya, mahasiswa perlu mendapatkan pengalaman langsung untuk memahami proses menemukan peluang, menciptakan nilai, bekerja dalam tim, serta berinteraksi dengan konsumen untuk menawarkan produk.
"Dalam kegiatan tersebut, setiap kelompok mahasiswa terlebih dahulu menyusun konsep bisnis dan melakukan riset sederhana untuk mengetahui kebutuhan pasar. Hasil riset kemudian digunakan sebagai dasar dalam mengembangkan produk dan menentukan strategi pemasaran.
"Mahasiswa juga harus mengelola proses penjualan secara langsung dan menghadapi berbagai respons dari konsumen. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari pembelajaran untuk memahami bahwa sebuah produk tidak hanya bergantung pada proses produksi, tetapi juga harus sesuai dengan kebutuhan pasar," paparnya.
Salah satu mahasiswa baru, Program Studi Akuntansi, Alicia Issabell mengaku, mendapatkan pengalaman baru melalui kegiatan tersebut. Ia bersama timnya mengolah botol plastik bekas menjadi berbagai produk aksesori.
"Kami memanfaatkan sampah plastik untuk membuat produk bernilai guna. Sebelum memproduksi, kami melakukan survei sederhana untuk mengetahui minat calon konsumen. Produk yang dibuat kemudian dijual dengan harga mulai Rp2.000 hingga Rp26.000," ujat Alicia.
Alicia mengatakan penjualan produk tersebut mendapat respons positif dan menghasilkan keuntungan lebih dari dua kali modal awal. Selain berorientasi pada penjualan, kelompoknya juga membawa misi sosial.
"Kami akan mendonasikan 40 persen pendapatan kepada komunitas," tegasnya.
Editor : Elva Setyaningrum