Abu Vulkanik Picu Risiko ISPA dan Kekambuhan Asma
KOTA TANGERANG, iNewsTangsel.id -Paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang sempat menyebar hingga Kota Tangerang berpotensi meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan. Partikel halus yang terkandung dalam abu dapat terhirup hingga masuk ke paru-paru, memicu iritasi, peradangan, hingga memperburuk penyakit pernapasan seperti asma.
Dokter Spesialis Paru RSUD Kota Tangerang, dr. Virginia Nurya Hikmawati mengatakan, masyarakat perlu membedakan karakteristik abu vulkanik dengan debu biasa. Abu vulkanik mengandung partikel mineral dan logam, termasuk kuarsa dan silika, yang dapat menimbulkan gangguan ketika masuk ke saluran pernapasan.
“Kalau debu biasa kandungannya bisa berupa tanah, serat kain, jamur, maupun alergen. Sementara abu vulkanik memiliki partikel mineral dan logam, termasuk kuarsa dan silika,” ujar Virginia, Kamis (10/9/2026).
Menurut dia, ukuran partikel abu yang sangat kecil membuatnya mudah terhirup. Partikel tersebut kemudian dapat masuk ke saluran pernapasan dan, dalam kondisi tertentu, mencapai jaringan paru-paru.
Ketika masuk ke dalam tubuh, partikel abu dapat dianggap sebagai benda asing dan memicu reaksi peradangan. Kondisi tersebut dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan serta meningkatkan produksi lendir," terangnya.
Akibatnya, lanjut dr. Virginia, masyarakat yang terpapar dapat mengalami sejumlah keluhan, mulai dari rasa tidak nyaman pada hidung dan tenggorokan, batuk, hingga sakit tenggorokan. Jika paparan berlangsung lebih dalam hingga mencapai paru-paru, keluhan dapat berkembang menjadi batuk yang lebih berat dan sesak napas.
'Kelompok yang telah memiliki riwayat penyakit pernapasan menjadi salah satu kelompok yang perlu meningkatkan kewaspadaan. Paparan partikel abu dapat memicu kambuhnya gangguan pernapasan yang sebelumnya telah diderita, seperti asma,” katanya.
Ia menjelaskan, selain gangguan pernapasan, abu vulkanik juga dapat menimbulkan keluhan pada bagian tubuh lain. Paparan pada mata dapat menyebabkan rasa perih dan gatal.
"Sesak napas tidak boleh diabaikan. Keluhan tersebut dapat menjadi tanda, seseorang membutuhkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut di fasilitas pelayanan kesehatan," tegasnya.
Untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan, lanjutnya, masyarakat diminta membatasi aktivitas di luar rumah selama paparan abu masih berpotensi terjadi. Langkah ini terutama penting bagi kelompok rentan dan warga yang memiliki riwayat penyakit saluran pernapasan.
"Masyarakat juga disarankan membersihkan diri setelah beraktivitas di luar ruangan. Tangan dan wajah perlu dicuci untuk menghilangkan partikel abu yang menempel, termasuk membersihkan tubuh setelah terpapar lingkungan luar. Tetap terapkan perilaku hidup bersih dan sehat serta pantau informasi resmi dari pemerintah,” pungkas dr. Virginia.
Editor: Elva Setyaningrum