Panas Perkotaan Ancam Warga Miskin, Wamen PU Dorong Hunian Adaptif
Direktur Eksekutif RCUS, Elisa Sutanudjaja, mengatakan penelitian tersebut mengangkat pengalaman warga dalam menghadapi panas yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dampaknya tidak hanya dirasakan pekerja luar ruangan, tetapi juga anak-anak, lansia, dan keluarga yang tinggal di permukiman padat.
“Kami hanya membantu mengangkat ceritanya kepada publik dan para pengambil kebijakan,” kata Elisa, merujuk pada pengalaman warga yang terlibat dalam penelitian tersebut.
Ia menekankan pentingnya menjadikan rumah sebagai tempat berlindung yang nyaman, bukan ruang yang justru menyimpan panas. Karena itu, kebijakan adaptasi perlu memastikan masyarakat dapat tinggal di hunian yang sehat dan layak tanpa terbebani keterbatasan ekonomi.
Perwakilan warga Kampung Marlina, Eny Rochayati, turut menyoroti dampak panas ekstrem terhadap kesehatan masyarakat. Ia menyebut warga menghadapi kesulitan ketika membutuhkan layanan kesehatan, terutama keluarga berpenghasilan rendah.
“Jangan menunggu korban dulu baru dijadikan bencana. Bencana panas dari krisis iklim adalah bencana yang harus diprioritaskan oleh pemerintah,” tegas Eny.
Editor: Hasiholan Siahaan