Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Suhu Tangerang Tembus 35 Derajat, Warga Diminta Hemat Air
Advertisement . Scroll to see content

Panas Perkotaan Ancam Warga Miskin, Wamen PU Dorong Hunian Adaptif

Jum'at, 23 Oktober 2026 | 15:55 WIB
  • author Hasiholan
Panas Perkotaan Ancam Warga Miskin, Wamen PU Dorong Hunian Adaptif
Masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di kawasan perkotaan menghadapi tantangan semakin berat untuk beradaptasi dengan panas ekstrem di tengah kemarau panjang. Foto Olan

JAKARTA, iNewsTangsel.id - Masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di kawasan perkotaan menghadapi tantangan semakin berat untuk beradaptasi dengan panas ekstrem di tengah kemarau panjang. Keterbatasan kualitas hunian, minimnya ventilasi udara, serta penggunaan material bangunan yang menyerap dan memerangkap panas membuat warga di permukiman padat semakin rentan terhadap gangguan kesehatan dan penurunan kenyamanan hidup.

Kondisi tersebut diperburuk fenomena urban heat island atau penumpukan panas perkotaan akibat penggunaan material konstruksi seperti beton, aspal, dan kaca yang menyerap panas. Minimnya ruang terbuka hijau dan terhambatnya sirkulasi angin akibat kepadatan bangunan turut membuat suhu lingkungan tetap terasa panas hingga malam hari. Situasi ini menjadi perhatian karena masyarakat berpenghasilan rendah memiliki keterbatasan untuk memperbaiki rumah maupun menggunakan pendingin ruangan.

Temuan tersebut mengemuka dalam Dialog Diseminasi Nasional riset Beyond Housing Types (BeHousing) di Jakarta. Penelitian ini mengkaji hubungan antara karakteristik hunian, kondisi sosial-ekonomi, tata kelola, dan kemampuan masyarakat menghadapi panas perkotaan.

Riset BeHousing dipimpin Rujak Center for Urban Studies (RCUS) bersama Kota Kita Foundation, Arkom Indonesia, dan Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA), Universiti Kebangsaan Malaysia. Penelitian melibatkan 1.125 warga di empat lokasi studi, yakni Jakarta, Semarang, dan Surabaya di Indonesia, serta Selangor di Malaysia.

Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti menegaskan hasil penelitian tersebut dapat menjadi masukan penting dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang inklusif dan responsif terhadap tantangan panas perkotaan. Menurutnya, upaya mewujudkan hunian yang tangguh membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah hingga masyarakat.

“Riset ini dibutuhkan. Hasil penelitian BeHousing penting sebagai masukan bagi pengembangan kebijakan dan pelaksanaan pembangunan yang inklusif dan responsif. Sebab urban heat merupakan tantangan pembangunan yang membutuhkan kerja sama multipihak dalam menjamin terwujudnya hunian tangguh dan inklusif di berbagai skala,” ujar Diana, Jumat (23/10/2026).

Editor: Hasiholan Siahaan

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut