Panas Perkotaan Ancam Warga Miskin, Wamen PU Dorong Hunian Adaptif
Sementara itu, perwakilan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Melina Wulandari, menyampaikan bahwa panas ekstrem dapat dipertimbangkan dalam pengembangan kajian risiko bencana, antara lain dengan memanfaatkan peta panas dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Riset BeHousing juga menemukan bahwa adaptasi hunian masih banyak mengandalkan kemampuan individu dan rumah tangga. Upaya seperti memasang peneduh, menambah tanaman, dan memperbaiki ventilasi belum selalu mampu mengatasi panas akibat keterbatasan ruang, kondisi bangunan, dan biaya perbaikan.
Selain perbaikan fisik hunian, penelitian tersebut menyoroti kebutuhan pembiayaan yang terjangkau. Skema berbasis komunitas melalui koperasi dinilai berpotensi membantu warga memperbaiki rumah secara kolektif, tetapi masih memerlukan dukungan pendanaan yang lebih luas.
BeHousing merekomendasikan penguatan desain bangunan adaptif, penyediaan ruang terbuka bersama yang lebih sejuk, peningkatan akses pembiayaan perbaikan rumah, serta koordinasi kebijakan lintas sektor. Integrasi kebijakan perumahan, tata ruang, kesehatan, lingkungan hidup, dan kebencanaan dinilai penting agar perlindungan terhadap panas perkotaan menjangkau kelompok masyarakat yang paling rentan.
Editor: Hasiholan Siahaan