MRT Kembangan–Balaraja Solusi Kemacetan Tol Jakarta–Merak

Elva
Ilustrasi MRT Kembangan-Balaraja. Foto Ist

TANGERANG, iNewsTangsel.id - Kemacetan panjang yang hampir setiap hari terjadi di Jalan Tol Jakarta–Merak tidak hanya menyita waktu tempuh, tetapi juga menguras tenaga dan produktivitas para pekerja. Di tengah persoalan itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Banten tengah mengkaji kelayakan teknis pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) rute Kembangan–Balaraja. 

“Proyek ini diharapkan menjadi salah satu solusi jangka panjang untuk mengurai kemacetan kronis di koridor Tol Jakarta–Merak sebagai wilayah penyangga Jakarta. Karena jalur itu menjadi jalan utama pergerakan manusia dan barang,” kata Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Tangerang, Jaenudin, Selasa (10/2/2026). 

Dia menjelaskan, MRT merupakan moda angkutan massal yang nyaman, relatif terjangkau. Bahkan, punya kepastian waktu perjalanan. Saat ini pembangunannya masih berada pada tahap kajian awal, baik dari sisi teknis maupun pembiayaan.

“Kami bersama pemangku kepentingan terkait, termasuk sejumlah pengembang swasta yang wilayahnya akan dilintasi jalur MRT, telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) sebagai dasar percepatan pembahasan proyek tersebut,” terang Jaenudin.

Menurut dia, kajian tersebut tidak hanya mencakup aspek teknis pembangunan jalur dan stasiun, tetapi juga potensi kontribusi ekonomi MRT terhadap kawasan barat Jakarta, Kota Tangerang, dan Kabupaten Tangerang. 

“Kami bersama Pemprov DKI dan pemerintah kabupaten/kota terkait akan menindaklanjuti hasil kajian. Hal itu dilakukan untuk menentukan kelayakan teknis, skema pendanaan, serta kebijakan daerah masing-masing,” ujarnya

Diterangkan, pembangunan fisik, termasuk stasiun MRT baru bisa dilakukan setelah kajian teknis dan pembiayaan disepakati secara menyeluruh. Saat ini masih pada tahap kesepakatan percepatan dan pengkajian. 

“Jika terealisasi, MRT Kembangan–Balaraja diharapkan tidak hanya memperbaiki konektivitas transportasi antardaerah, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan barat Jakarta dan Banten melalui peningkatan aksesibilitas tenaga kerja, investasi, dan aktivitas usaha,” terangnya. 

Rencana pembangunan MRT tersebut disambut positif oleh masyarakat, khususnya para pekerja. Salah satunya, Lili Dimyati (47), karyawan swasta dari Balaraja, mengaku setiap hari saat jam sibuk harus menghabiskan waktu hingga tiga jam untuk menuju tempat kerjanya di Jakarta Barat. 

“Kalau hujan atau ada kecelakaan, bisa lebih lama lagi. Berangkat subuh sampai rumah sudah larut malam,” ujarnya.

Dia menegaskan, jika sudah resmi beroperasi, MRT bukan sekadar moda transportasi baru, tapi juga bisa menjadi harapan akan waktu tempuh yang lebih pasti. Sehingga kehidupan bisa lebih seimbang. 

“Kalau ada MRT, saya bisa punya waktu lebih untuk keluarga. Karena bisa agak siang jalan dan pulang bisa cepat sampai rumah. Karena capek di jalan itu, rasanya luar biasa,” ucapnya.

Hal senada disampaikan Agung (32), pekerja logistik di kawasan pergudangan Balaraja, Tangerang. Keberadaan stasiun MRT di sepanjang rute Kembangan–Balaraja akan membantu menekan biaya dan waktu perjalanan.

“Kalau benar terealisasi, ongkos lebih terjangkau dan waktunya pasti. Tidak lagi kejar-kejaran dengan macet setiap hari,” katanya. 

Editor : Elva Setyaningrum

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network