Dukungan juga datang dari PLN yang melihat potensi besar dalam pengembangan ekonomi kreatif berbasis inklusi. Senior Manager Komunikasi dan Umum PLN UID Jakarta Raya, Haris Andika, menyatakan pihaknya turut memberikan pelatihan pemasaran digital agar produk karya peserta dapat menjangkau pasar yang lebih luas.
“Harapannya, mereka tidak hanya menjadi pengrajin, tetapi juga pelaku usaha yang mandiri dan berdaya saing,” kata Haris.
Melalui kolaborasi ini, Akademi Batik Tuli(s) diharapkan menjadi model pemberdayaan berbasis budaya yang inklusif, sekaligus menjaga warisan batik Indonesia di tengah perkembangan zaman.
Editor : Hasiholan Siahaan
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
Artikel Terkait
BERITA POPULER
+
News Update
