Pertumbuhan Industri Asuransi Jiwa Belum Diikuti Peningkatan Kepemilikan Polis

Elva
Ketua Dewan Pengurus AAJI saat memaparkan kinerja industri asuransi jiwa kuartal I 2026. Foto: iNewsTangsel/Elva.

JAKARTA, iNewsTangsel.id - Industri asuransi jiwa nasional masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan tingkat inklusi di tengah naiknya literasi masyarakat terhadap produk perlindungan keuangan. Meski pemahaman masyarakat mengenai asuransi terus membaik, namun kepemilikan produk asuransi masih belum tumbuh secepat peningkatan literasi tersebut. 

‎"Kesenjangan antara literasi dan inklusi masih menjadi pekerjaan rumah bagi industri asuransi. Kami berharap semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang tidak hanya memahami pentingnya asuransi, tapi juga memiliki perlindungan asuransi,” kata Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Albertus Wiroyo Karsono, Selasa (2/6/2026). 

‎Menurut dia, kelompok usia muda menjadi salah satu pasar potensial yang dapat mendorong pertumbuhan industri ke depan. Seiring meningkatnya kesadaran terhadap pentingnya perlindungan finansial, industri asuransi perlu menghadirkan akses yang lebih mudah dan produk yang sesuai dengan kebutuhan generasi tersebut.

‎"Pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menjadi salah satu strategi yang dapat memperluas jangkauan pasar. Teknologi tersebut memungkinkan perusahaan asuransi memahami kebutuhan calon nasabah secara lebih akurat sehingga produk yang ditawarkan menjadi lebih relevan," ujarnya 

‎Selain itu, lanjut dia, perkembangan kanal pemasaran langsung atau direct marketing juga menunjukkan tren positif. Kanal tersebut melengkapi jalur distribusi konvensional seperti keagenan dan bancassurance, sekaligus memberikan lebih banyak pilihan bagi masyarakat untuk memperoleh produk perlindungan.

‎"Karena masih banyak masyarakat yang telah memahami manfaat asuransi, namun belum menjadi nasabah karena keterbatasan akses informasi. Apalagi, pertanyaan mengenai cara memperoleh produk, lokasi pembelian, hingga besaran premi masih menjadi pertimbangan bagi sebagian calon pemegang polis," terangnya. 

‎Dia menjelaskan, di tengah tantangan tersebut, kinerja industri asuransi jiwa pada kuartal I 2026 tetap menunjukkan pertumbuhan. Premi dari segmen individu tercatat sebesar Rp35,75 triliun, meskipun turun 2,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, premi dari segmen kumpulan tumbuh 5,7 persen menjadi Rp11,52 triliun.

‎“Komposisi ini mencerminkan, kebutuhan perlindungan terus berkembang, baik di tingkat individu maupun kelompok,” tegas Albertus.

‎Dia mengungkapkan, dari sisi bisnis baru, premi secara weighted meningkat 1,5 persen menjadi Rp10,71 triliunn. Sedangkan, secara unweighted naik 5 persen menjadi Rp27,90 triliun. Pertumbuhan tersebut menunjukkan minat masyarakat terhadap produk asuransi jiwa masih terjaga meski kondisi ekonomi belum sepenuhnya pulih.

‎"Peningkatan bisnis baru turut ditopang oleh tingginya minat terhadap produk premi tunggal (single premium), terutama dari nasabah dengan kapasitas finansial yang lebih kuat. Produk tersebut masih diminati karena menawarkan kombinasi manfaat perlindungan dan investasi," paparnya. 

Sementara itu, lanjutnya, premi lanjutan tercatat sebesar Rp19,37 triliun atau turun 7,5 persen secara tahunan. Meski demikian, kontribusinya masih signifikan terhadap total premi industri karena mencerminkan keberlanjutan perlindungan yang dimiliki nasabah.

‎"Dari sisi distribusi, kanal bancassurance masih menjadi penyumbang terbesar premi industri. Pada premi bisnis baru secara weighted, kanal ini menghasilkan Rp3,46 triliun, diikuti direct marketing sebesar Rp2,69 triliun dan keagenan Rp2,42 triliun," imbuhnya. 

‎Dia menambahkan, untuk perhitungan unweighted, kontribusi bancassurance mencapai Rp13,24 triliun, disusul direct marketing Rp6,92 triliun dan keagenan Rp4,04 triliun. Kanal distribusi lainnya juga mencatat pertumbuhan, di antaranya employee benefit consultant dengan premi Rp1,07 triliun serta broker sebesar Rp610 miliar.

‎"Diversifikasi jalur distribusi menjadi faktor penting dalam memperluas akses masyarakat terhadap produk asuransi jiwa sekaligus mendukung pertumbuhan industri di tengah meningkatnya kebutuhan perlindungan finansial masyarakat," tutup Albertus.

Editor : Elva Setyaningrum

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network