Sutradara Maulana Firdaus bersama 16 pemain berhasil mengemas cerita menjadi tontonan yang komunikatif dan mudah dipahami lintas generasi. Ditambah kehadiran bintang tamu Rudi Sipit, suasana panggung semakin hidup dan interaktif, memperkuat ciri khas lenong sebagai teater rakyat yang dekat dengan penonton.
Penulis naskah Riyanto RA menekankan bahwa lenong lahir dari kehidupan masyarakat Betawi, sehingga cerita yang diangkat harus tetap membumi. Ia berharap penonton tidak hanya tertawa, tetapi juga merenungkan nilai kebersamaan di tengah perubahan kota.
Sementara itu, Sanggar Oplet Robet sebagai penggagas pertunjukan terus berupaya menjaga eksistensi seni Betawi melalui berbagai karya. Pimpinan sanggar, Ramdani (Qubil AJ), menyebut panggung Galeri Indonesia Kaya menjadi kesempatan penting untuk memperkenalkan lenong kepada generasi baru.
Dengan rangkaian pertunjukan seni Betawi sepanjang Juni, perayaan HUT Jakarta tahun ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya bisa dikemas secara segar dan relevan. Lenong Kampung Te-Ko pun menjadi bukti bahwa di tengah geliat kota menuju era modern, warisan budaya tetap memiliki ruang untuk hidup dan berkembang.
Editor : Hasiholan Siahaan
Artikel Terkait
