Kurator festival, Shadu Rasjidi, menyebut pendekatan ini bukan sekadar strategi artistik, melainkan upaya membangun jembatan antara jazz dan pendengar baru. Menurutnya, festival harus menjadi ruang pertemuan berbagai genre tanpa kehilangan akar.
“Ini bukan hanya soal siapa yang tampil, tetapi bagaimana musik jazz bisa lebih dekat dan dipahami oleh publik luas,” kata Shadu.
Di sisi lain, langkah ini juga menunjukkan strategi adaptif penyelenggara dalam menjaga ekosistem festival. Dengan tetap menghadirkan nama besar seperti Michael Learns to Rock, The Rose, hingga Joey Alexander, Prambanan Jazz berupaya menjaga daya tarik pasar sekaligus memperkuat identitas musikalnya.
Lebih dari sekadar konser, festival ini juga menggerakkan ekosistem ekonomi kreatif, melibatkan ratusan pelaku UMKM, kru produksi, hingga sponsor yang menopang keberlangsungan acara tahunan tersebut.
Editor : Hasiholan Siahaan
Artikel Terkait
