Endometriosis dan Testosteron Rendah Dapat Ganggu Kesuburan

Elva
Ilustrasi model anatomi rahim yang menunjukkan adanya kista endometriosis. (Foto: Istimewa)

TANGERANG SELATAN, iNewsTangsel.id - Gangguan kesuburan tidak hanya dipengaruhi oleh masalah pada organ reproduksi perempuan, tapi juga kondisi hormonal pada pria. Dua masalah yang memengaruhi peluang memiliki keturunan sekaligus berdampak pada kualitas hidup adalah endometriosis yang dapat memicu terbentuknya kista endometriosis pada perempuan dan rendahnya kadar hormon testosteron pada pria.

‎Dokter spesialis obstetri dan ginekologi konsultan fertilitas RS. Eka Hospital BSD, dr. Agus Heriyanto menjelaskan, kista endometriosis merupakan kista yang terbentuk di ovarium akibat pertumbuhan jaringan endometrium di luar rahim. Kista ini umumnya berisi darah sehingga dikenal sebagai "kista cokelat" dan sering menjadi tanda endometriosis sudah berada pada stadium yang lebih berat.

‎"Kista endometriosis berukuran kecil sering kali tidak menimbulkan gejala. Namun, ketika membesar, penderita dapat mengalami nyeri hebat di perut bagian bawah, nyeri saat berhubungan seksual, nyeri saat buang air kecil atau buang air besar, nyeri punggung bawah, hingga mual dan perut kembung," katanya, Selasa (28/7/2026).

‎Ia menjelaskan, endometriosis dapat mengganggu kesuburan melalui beberapa mekanisme. Salah satunya, terbentuknya perlengketan pada ovarium atau tuba falopi yang menghambat pertemuan sel telur dan sperma. Selain itu, kista juga dapat mengganggu proses ovulasi sehingga sel telur tidak dilepaskan secara normal serta memengaruhi sistem hormonal dan imun yang berperan dalam proses pembuahan.

‎"Meski demikian, perempuan dengan kista endometriosis masih memiliki peluang untuk hamil. Peluang tersebut bergantung pada tingkat keparahan penyakit, usia, dan kondisi kesehatan masing-masing. Diperkirakan sekitar 30–50 persen perempuan dengan endometriosis mengalami gangguan kesuburan," ujarnya.

‎Ia mengungkapkan, untuk memastikan diagnosis, dokter biasanya melakukan pemeriksaan panggul yang dilengkapi dengan pemeriksaan pencitraan, seperti ultrasonografi (USG) atau magnetic resonance imaging (MRI).

‎"Penanganan dilakukan sesuai kondisi pasien, mulai dari observasi, pemberian obat untuk mengendalikan gejala dan hormon, hingga tindakan operasi apabila ukuran kista besar atau menimbulkan keluhan berat," imbuh dr. Agus.

‎Sementara itu, dokter spesialis andrologi dr. Christian Christoper Sunnu mengingatkan, hormon testosteron tidak hanya berfungsi dalam pembentukan sperma, tapi juga berperan penting dalam menjaga energi, suasana hati, kemampuan berpikir, massa otot, hingga performa kerja.

‎"Rendahnya kadar testosteron dapat menyebabkan berbagai keluhan, seperti penurunan gairah seksual, disfungsi ereksi, mudah lelah, sulit berkonsentrasi, perubahan suasana hati, depresi, hingga penurunan massa otot dan kepadatan tulang," terangnya.

‎Menurut dr. Christian, kondisi tersebut juga berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan metabolik, seperti obesitas, tekanan darah tinggi, diabetes, serta penyakit jantung dan stroke.

‎Ia mengungkapkan, penanganan testosteron rendah diawali dengan pemeriksaan medis dan tes darah untuk memastikan penyebabnya. Terapi dapat berupa penggantian hormon testosteron, penggunaan obat hormonal tertentu, pemberian vitamin atau mineral sesuai indikasi, serta penerapan gaya hidup sehat.

‎"0lahraga rutin, pola makan bergizi seimbang, tidur yang cukup, pengelolaan stres, serta pembatasan konsumsi alkohol merupakan langkah penting untuk membantu menjaga kadar testosteron tetap normal," tutup dr. Christian.

Editor : Elva Setyaningrum

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network