JAKARTA, iNewsTangsel.id -Pendidikan kebangsaan dinilai perlu diperkuat untuk menyiapkan generasi muda yang memiliki kemampuan kepemimpinan, integritas, dan pemahaman terhadap keberagaman Indonesia. Salah satu upaya yang dirancang untuk menjawab kebutuhan tersebut adalah program Sekolah Kebangsaan Belajar Indonesia Merdeka yang akan menyasar mahasiswa dari seluruh provinsi di Indonesia termasuk penyandang disabilitas, mulai Januari 2027.
Ketua Yayasan Dana Darma Pancasila, (YDDP), Yudi Latif mengatakan, program tersebut dilatarbelakangi kebutuhan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, memiliki integritas, serta mampu memahami keberagaman Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
"Kualitas manusia menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan sistem pemerintahan dan pembangunan. Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya membekali mahasiswa dengan pengetahuan akademik, tetapi juga perlu membangun kompetensi kewargaan dan kepemimpinan," kata Yudi, saat HUT Aliansi Kebangsaan ke-16, di Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Menurutnya, sistem pemerintahan dan pembangunan penting, tetapi sistem tersebut tidak pernah melebihi kualitas manusianya. Jika manusianya tidak dididik, sistem apa pun yang diperkenalkan tidak akan menghasilkan output dan outcome yang sesuai harapan.
"Untuk itu, kita harus menyiapkan tenaga-tenaga muda yang dididik secara inklusif menjadi warga negara yang inklusif,” ujar Yudi.
Ia menilai, pendidikan politik dan pendidikan kewarganegaraan di Indonesia masih perlu diperkuat agar mampu membentuk warga negara yang memahami tanggung jawab sosial, menghargai perbedaan, dan berpartisipasi dalam kehidupan demokrasi.
Ia menjelaskan, sekolah ini dirancang dalam dua tingkat pembelajaran. Tingkat dasar berfokus pada wawasan keindonesiaan secara menyeluruh. Sedangkan tingkat lanjutan menitikberatkan pada kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila.
"Pada tingkat dasar, peserta akan mempelajari tiga aspek utama, yakni kealaman, kemanusiaan, dan peradaban," imbuhnya.
Yudi memaparkan, materi kealaman mencakup kondisi geologi dan geografis Indonesia, kekayaan laut, keanekaragaman hayati, hutan tropis, serta potensi komoditas nasional. Sementara itu, aspek kemanusiaan membahas arkeologi prasejarah, antropologi Nusantara, serta asal-usul dan keragaman populasi manusia Indonesia.
"Materi tersebut diharapkan membantu peserta memahami pembentukan masyarakat Indonesia yang majemuk" katanya.
Adapun, lanjutnya, aspek peradaban mencakup sejarah maritim, teknologi pembangunan candi, pengetahuan pengobatan tradisional, pertanian, hingga perkembangan pemikiran politik Indonesia.
"Pembelajaran ini diarahkan untuk memperkenalkan kekayaan pengetahuan dan tradisi intelektual Nusantara kepada generasi muda," ungkapnya.
Pada tingkat lalanjutan, terang Yudi, peserta akan mendalami penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kepemimpinan dan penyelenggaraan kehidupan bernegara. Pembelajaran juga akan menggunakan contoh keteladanan dari tokoh-tokoh di bidang bisnis, politik, dan pemerintahan daerah.
"Program ini ditujukan bagi mahasiswa semester enam dan tujuh dengan keterwakilan dari seluruh provinsi di Indonesia. Setiap provinsi direncanakan mengirimkan sepasang peserta laki-laki dan perempuan. Kami juga menyiapkan kuota khusus bagi penyandang disabilitas untuk memperluas akses dan memastikan keberagaman peserta," papar Yudi.
Selain pembelajaran di kelas, mahasiswa akan mengikuti refleksi kebangsaan, menyusun makalah bersama, serta mengunjungi sejumlah situs sejarah, termasuk Museum Sumpah Pemuda dan Gedung Proklamasi.
"Kegiatan tersebut diharapkan memberikan pengalaman belajar yang menghubungkan pemahaman sejarah dengan tantangan kebangsaan saat ini. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep nasionalisme, tetapi juga memahami proses terbentuknya identitas Indonesia dan tanggung jawab generasi muda dalam merawat persatuan," terangnya.
Yudi menambahkan, pihaknya juga merencanakan penyelenggaraan program ini sebanyak dua angkatan setiap tahun. Ke depan, pengembangan pendidikan juga diarahkan pada pendokumentasian pengetahuan lokal atau local knowledge dari berbagai daerah untuk memperkenalkan kontribusi masyarakat Nusantara dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
"Pelaksanaan program tersebut membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk akademisi, peneliti, dan pelaku usaha. Kolaborasi lintas sektor diharapkan dapat memperkaya materi pembelajaran sekaligus menjaga keberlanjutan pendidikan kebangsaan bagi generasi muda," pungkas Yudi.
Editor : Elva Setyaningrum
Artikel Terkait
