TANGERANG, iNewsTangsel.id - Upaya memperkuat budaya literasi tidak hanya berkaitan dengan peningkatan minat baca, tapi juga pengenalan terhadap sejarah penerbitan dan penghargaan atas karya tulis. Salah satu aspek yang dapat diperkenalkan kepada masyarakat adalah buku edisi pertama yang memiliki nilai dokumentasi dalam perjalanan sebuah karya.
Koleksi buku edisi pertama bertanda tangan penulis diperkenalkan dalam bazar buku internasional Big Bad Wolf Books di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, pada 28 Oktober hingga 1 November 2026.
"Dalam kegiatan kali ini, kami menghadirkan koleksi berupa signed first editions, edisi eksklusif, dan buku cetakan terbatas. Kehadiran koleksi tersebut dapat menjadi sarana untuk mengenalkan beragam karakteristik buku kepada pembaca, termasuk pelajar dan mahasiswa," kata Co-Founder sekaligus Managing Director Goldsboro Books, toko buku asal London, Inggris, David Headley, Rabu (28/10/2026).
Dia menjelaskan, selain memahami isi bacaan, di pameran ini, masyarakat juga dapat mengenal proses penerbitan, sejarah suatu karya, serta perbedaan antara edisi reguler dan edisi koleksi.
"Pengetahuan mengenai karakteristik buku tersebut dapat memperluas pemahaman tentang dunia literasi dan industri penerbitan. Buku tidak hanya berfungsi sebagai media pembelajaran, tetapi juga menjadi sarana dokumentasi perkembangan pemikiran, sastra, dan kebudayaan," imbuhnya.
Dia menerangkan, signed first editions merupakan buku edisi pertama yang ditandatangani langsung oleh penulisnya. Sementara itu, edisi eksklusif biasanya memiliki ciri khusus pada desain sampul, penjilidan, atau tampilan halaman.
"Adapun edisi terbatas diterbitkan dalam jumlah tertentu dan sebagian dilengkapi nomor seri," ucapnya.
Sementara itu, Country Director Big Bad Wolf Books Indonesia, Marthius Wandi Budianto menambahkan, di Indonesia, bazar buku internasional menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk berinteraksi dengan beragam jenis bacaan.
"Menariknya, kegiatan ini berlangsung selama 24 jam selama periode penyelenggaraan, sehingga pengunjung dapat menyesuaikan waktu kunjungan dengan kebutuhan masing-masing," katanya.
Pada kesempatan yang sama, pendiri Big Bad Wolf Books, Andrew Yap mengungkapkan, perluasan akses terhadap buku menjadi bagian penting dari perjalanan penyelenggaraan bazar tersebut selama satu dekade terakhir.
Meski demikian, penguatan budaya literasi tidak cukup hanya dengan menghadirkan beragam koleksi buku.
"Upaya tersebut juga membutuhkan kebiasaan membaca yang berkelanjutan, lingkungan belajar yang mendukung, serta akses terhadap bahan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat," ujarnya.
Bagi pelajar, lanjut dia, membaca dapat membantu memperluas wawasan, meningkatkan kemampuan memahami informasi, dan mengembangkan pola pikir kritis. Sementara bagi pendidik, keberagaman bahan bacaan dapat menjadi sumber pendukung pembelajaran di luar materi utama di kelas.
"Pengenalan terhadap buku edisi pertama dan sejarah penerbitan juga dapat menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana karya tulis diproduksi, disebarluaskan, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya sehingga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan pengembangan pengetahuan masyarakat," tutup Andrew.
Editor : Elva Setyaningrum
Artikel Terkait
